Silsilah Amalan Sunnah yang Terlupakan (22) : Meluruskan Punggung Ketika Ruku dalam Shalat

meluruskan punggung ketika ruku dalam shalat

Makkah al-mukarramah (6/07/1438 H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Al-wasyiyah bi ba'di as-sunan syibhu mansiyah, karya Haifa binti Abdullah ar-rasyid, pengantar syeikh, Abdul azizi Muhammad as-sadhan, jilid pertama, hal: 94-95, cet. Kedua, tahun 1426 H

No comments

Ikhwati fillah, diantara perkara penting yang perlu kita cermati dan merupakan amalan sunnah dalam shalat, yang banyak ditinggal oleh kaum muslimin yaitu meluruskan punggung ketika ruku. Dan Ini merupakan rangkaian sunnah Al-fi’liyah (perbuatan) dalam shalat. Dimana, kita dapatkan dari sebagian kaum muslimin, mereka menganggkat kepala saat ruku’ melebihi punggungnya atau sebaliknya menundukkan kepalanya dibawah punggungnya. Sedangkan yang benar dan sesuai dengan sunnah adalah hendaknya posisi kepala kita lurus dan sejajar dengan pungung saat ruku’
Imam Bukhari –semoga Allah merahmatinya- menulis suatu bab, yaitu “Bab meluruskan punggung dalam ruku'”. (2/322).

Kemudian beliau menyebutkan riwayat dari Abi Humaid As-sa’idy –semoga Allah meridzainya-, ia berkata : Aku adalah orang yang paling hafal tentang shalat Rosulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, aku melihat beliau apabila takbir ia menjadikan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya dan apabila ia ruku kedua tangannya memegang kedua lututnya kemudian ia meluruskan punggungnya” ( hadits no, 828).

Imam Ibnu Rajab –semoga Allah merahmatinnya- berkata : “Dan nampaklah tafsir dari pembuatan bab Imam Bukhari, bahwa yang dimaksud dengan hashara adalah meluruskan dan menyamakan”. Demikian pula al-khattaby –semoga Allah merahmatinya- berkata : hashara punggungnya, yaitu berusaha sungguh-sungguh meluruskan leher serta punggungnya dan tidak membungkukan. (Fathul bary : 5/53).

Ibnu hajar –semoga Allah merahmatinya- berkata : “Bab meluruskan punggung ketika ruku”, yaitu tanpa menjatuhkan kepala dari punggung atau sebaliknya (mengangkat kepada dari punggung)”. (Futhul bary, 2: 322).

Imam Muslim –semoga Allah merahmatinya- meriwayatkan dari Aisyah -semoga Allah meridzainya- ia berkata : Apabila Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam ruku, ia tidak mengangkat kepalanya dan tidak memerundukannya. (shahih, no: 498).

Imam Nawawi –semoga Allah merahmatinya- mengomentari hadits diatas seraya berkata : “Didalamnya terdapat faidah, bahwasannya disunnahkan bagi orang yang ruku’ (ketika shalat) untuk meluruskan punggungnya, dimana kepada dan pantat menjadi lurus”. (Syarh muslim, 2/453).

Pendapat diatas diperkuat oleh syeikh Al-bany, dimana beliau membahas dengan detail semua jalan riwayat ini dan membeliau membawakan riwayat tersebut dalam kitabnya silsilah as-shahihah ( jilid 7, bagian kedua, hal: 989-996, no hadits : 3331). Adapun lafadz riwayat tersebut yaitu :

( كان ادا ركع – صلى الله عليه وسلم- لو صب ظهره ماء لاستقر )

Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ruku andaikata dituangkan air ke punggungnya niscaya air tersebut akan diam.

Terakhir, syeikh al-bany mengatakan : kesimpulannya, bahwa riwayat diatas adalah shahih tanpa ada keraguan sedikitpun. Maka ambilah pendapat pilihan ini, karena bisa jadi kalian tidak akan menemukan faidah ini ditempat (kitab) yang lain.

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari zaman…
Bersambung insyaAllah ta’ala…

Penulis, al-faqir illallah
Hamidin as-sidawy, Abu harits

Makkah al-mukarramah (6/07/1438 H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda