Silsilah Fatawa Al-Ulama (19) – Hukum Mengusap Wajah dengan Kedua Tangan Selesai Do’a dalam Shalat (Ketika Qunut)

Hukum Mengusap wajah

Makkah al-mukarramah (18/09/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Silsilah al-fatawa as-syar'iyah, terbitan dar al-hadits, dari ma'rib, diyaman, edisi ke tujuh, bulan dzul qo'dah dan dzul hihijjah, Oleh fadzilatus Syeikh Abu al-hasan Mutafa bin Isma'I As-sulaimany al-yamany, hal : 161, tahun, 1418 H

No comments

SILSILAH FATAWA AL-ULAMA (19)

HUKUM MENGUSAP WAJAH DENGAN KEDUA TANGAN SELESAI DO’A DALAM SHALAT (KETIKA QUNUT)

PERTANYAAN : Apakah hukum mengusap wajah dengan kedua tangan selesai do’a dalam shalat?

JAWABAN : Kebanyakan ahli ilmu berpendapat untuk tidak mengusap, karena tidak ada dasarnya dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam, Al Imam Al Baihaqi -Semoga Allah merahmatinya- mengatakan di dalam “Al Kubra” 2/212: “Adapun mengusap wajah dengan kedua tangan selesai berdo’a dalam shalat, maka aku tidak pernah hafal (tahu) dari salah seorang salaf ketika do’a qunut mengerjakan hal itu, walaupun salah seorang dari sebagian mereka meriwayatkan tentang mengusap wajah selesai do’a di luar shalat”.

Dan telah diriwayatkan dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam sebuah hadits yang didalamnya terdapat kelemahan. Dan hal itu di pakai dalil akan bolehnya mengusap wajah selesai do’a oleh sebagian mereka di luar shalat (bukan dalam shalat).

Adapun mengusap wajah dengan kedua tangan selesai do’a dalam shalat maka itu merupakan amalan yang tidak ada dasarnya, baik berupa khabar shahih, atau atsar yang tetap atau pun qiyas, maka yang paling utama adalah tidak melakukannya, cukup dengan apa yang telah diperbuat oleh kaum salaf -semoga Allah meridhai mereka-, yaitu berupa mengangkat kedua tangan tanpa mengusap wajah di dalam shalat. Semoga Allah memberi kita taufiq.

Imam Ahmad pernah ditanya tentang hal tersebut: beliau mengatakan: aku tidak pernah mendengar hal itu, sebagaimana di dalam “Sualaat Abi Dawud” hal. 71, beliau pernah mengatakan sekali: aku berharap tidak mengapa, dan sebagaimana di dalam “Badai’ Al fawaid” 4/113, beliau memilih untuk meninggalkannya, dan yang lebih menentramkan hati adalah meninggalkan hal tersebut, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Al Baihaqi -semoga Allah merahmatinya-. Wallahu A’lam.

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai akhir zaman…..

(Silsilah al-fatawa as-syar’iyah, terbitan dar al-hadits, dari ma’rib, diyaman, edisi ke tujuh, bulan dzul qo’dah dan dzul hihijjah, Oleh fadzilatus Syeikh Abu al-hasan Mutafa bin Isma’I As-sulaimany al-yamany, hal : 161, tahun, 1418 H).
Bersambung insyaAllah ta’ala…

Alih bahasa, al-faqir ilallah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (18/09/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda