Silsilah Fatawa Al-Ulama (20) – Hukum Mengimani Shalat dengan Melihat Mushaf (Dalam Shalat Tarawih)

hukum mengimani shalat dengan melihat mushaf

Makkah al-mukarramah (20/09/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Silsilah al-fatawa as-syar'iyah, terbitan dar al-hadits, dari ma'rib, diyaman, edisi ke tujuh, bulan dzul qo'dah dan dzul hihijjah, Oleh fadzilatus Syeikh Abu al-hasan Mutafa bin Isma'I As-sulaimany al-yamany, hal : 163-164, tahun, 1418 H

No comments

SILSILAH FATAWA AL-ULAMA (20)

HUKUM MENGIMAMI SHALAT DENGAN MELIHAT MUSHAF (DALAM SHALAT TARAWIH).

PERTANYAAN: kami melihat di sebagian masjid dalam shalat tarawih, ada orang yang mengimami dengan cara melihat mushaf, apakah hal itu dibenarkan ataukah tidak?

JAWABAN: Pada asalnya bahwa bacaan dari hafalan seseorang itu lebih dekat kepada sunnah dan lebih bermanfaat bagi pembacanya, karena Al Qur’an lebih melekat di dalam hatinya, Al Imam Malik -semoga Allah merahmatinya- telah memberikan keringanan ketika beliau ditanya mengenai hal tersebut, beliau mengatakan: “Apabila manusia merasa sangat darurat untuk melakukan hal itu.”

Dan telah Shahih dari ‘Aisyah -semoga Allah meridhainya- bahwa budaknya yang bernama dzakwan pernah mengimami dengan mushaf.

Ibnu Abi Syaibah telah mengeluarkan di dalam “Mushannafnya” dan Ibnu Abi Dawud di dalam “Mashahif”, mereka berdua telah menyebutkan banyak sanad tentang siapa saja yang memberikan keringanan dalam hal itu dan siapa saja yang melarang hal tersebut.

Yang memberikan keringanan, dia melihat bahwa bacaan Al Qur’an termasuk salah satu amalan shalat. Dalam shalat sunnah masalah ini adalah luas. Karena Ummul Mukminin ‘Aisyah -Semoga Allah meridhainya- telah melakukannya, dan karena orang yang tidak hafal sesuatu dari Al Qur’an membutuhkan pengulangan satu surat atau dua surat atau lainnya, maka orang-orang tidak bersemangat untuk shalat bersamanya (sehingga membaca lebih baik pent.)

Adapun orang yang melarang hal itu, maka ia melihat bahwa hal tersebut menyerupai ahli kitab dan hal itu merupakan perbuatan dalam shalat yang tidak memiliki dalil yang dapat dijadikan saksi akan kebenarannya.

Kebanyakan para ulama membolehkan dengan beberapa ketentuan, walaupun mereka juga mengakui bahwa bacaan dengan hafalan itu lebih utama. telah diriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa beliau pernah ditanya tentang hal itu, beliau mengatakan: “mereka masih melakukan hal itu sejak munculnya islam, dahulu pilihan kami adalah mereka membaca dengan mushaf.” Akan tetapi di dalam sanadnya terdapat Abdul Aziz Bin Muhammad dia adalah Darawurdi, dan anak saudara Az Zuhri, keduanya tidak bisa dijadikan hujjah.

Apabilah pembaca adalah orang yang hafal sedangkan dibelakangnya ada seorang yang memegang mushaf, yang mana ia melihat dan mengingatkan imam, maka telah datang dalam mushannaf ibnu abi syaibah (2/120/7222), telah menceritakan kepada kami yahya bin Adam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Isa bin thahman, ia berkata : telah menceritakan kepada kami tsabit Al-bunany, ia berkata : Bahwa sahabat Anas bin Malik ia shalat sedangkan pelayannya memegang mushaf dibelakangnya, apabila Anas lupa maka budaknya mengingatkannya. Ini adalah sanad hasan, semua perawi adalah terpercaya melainkan isa bin thahman, maka ia adalah shaduq (baik).

Barang siapa yang mengerjakan hal tersebut dan meniru sahabat Anas -semoga Allah meridzainya- maka aku berharap tidak mengapa. Dan barang siapa yang shalat sedangkan disampingnya ada mushaf, jika ia lupa kemudian melihat mushaf, maka seperti ini telah shahih dari ibnu sirin, sebagaimana dikeluarkan oleh ibnu abu dawud dalam “al-mashahif”, hal: 194, dari beberapa jalan, bahwasannya ia shalat dengan duduk dan disampingnya terdapat mushaf, jika ia ragu maka ia melihat ke mushaf dalam shalat.

Imam Abu hanifah -semoga Allah merahmatinya- berpendapat akan rusaknya shalat orang yang membaca mushaf dalam shalat tarawih. Lalu dikomentari oleh al-marwazih, sebagaimana dalam “mukthashar qiyamul lail”, hal: 234, dengan ucapannya : bahwa ia tidak mengetahui seorangpun sebelum Abu hanifah yang berpendapat akan rusaknya shalat serta membantah qiyas abu hanifah dengan orang yang melihat kitab ilmu hisab didalam shalat.
Ibnu hazm berpendapat dalam “al-muhalla”, (4/223), no: 493, akan batalnya shalat orang yang mengerjakan hal tersebut (melihat mushaf dalam shalat). Akan tetapi pendapat yang kuat adalah bolehnya hal tersebut jika dibutuhkan dan jika tidak dibutuhkan maka itu adalah makruh.

Adapun apabila imam memegang mushaf sedangkan manusia dibelakang juga memegang mushaf -sebagaimana yang saya lihat disebagian masjid- maka aku tidak mengetahui hal itu dari perbuatan kaum salaf.

Dan tidak ada hajat bagi makmum untuk melakukan hal itu serta dikawatirkan atas manusia untuk memperluas dengan sesuatu yang tidak ada dari kaum salaf sehingga mereka akan tersesat dari jalan yang lurus. Dan hanya kepada Allah kita mohon pertolongan.

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai akhir zaman,,,,

(Silsilah al-fatawa as-syar’iyah, terbitan dar al-hadits, dari ma’rib, diyaman, edisi ke tujuh, bulan dzul qo’dah dan dzul hihijjah, Oleh fadzilatus Syeikh Abu al-hasan Mutafa bin Isma’I As-sulaimany al-yamany, hal : 163-164, tahun, 1418 H).

Bersambung insyaAllah ta’ala…

Alih bahasa, al-faqir ilallah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (20/09/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda