Silsilah Fatawa Al-‘Ulama (25) – Puasa Syawal atau Puasa Qadha Dulu ?

Puasa Syawal

Makkah al-mukarramah (15/10/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Silsilah al-fatawa as-syar'iyah, terbitan dar al-hadits, dari ma'rib, diyaman, edisi ke tujuh, bulan dzul qo'dah dan dzul hihijjah, Oleh fadzilatus Syeikh Abu al-hasan Mutafa bin Isma'I As-sulaimany al-yamany, hal : 168-169, tahun, 1418 H).

No comments

SILSILAH FATAWA AL-‘ULAMA (25) – Puasa Syawal atau Puasa Qadha Dulu ?

PERTANYAAN : Ada seorang yang berbuka beberapa hari dibulan ramadzan karena udzur syar’I, kemudian ia ingin berpuasa enam hari dibulan syawal, akan tetapi ia tidak mengganti terdahulu hari-hari yang ia tinggalkan dibulan romadzan, apakah ia mendapat keutamaan orang yang berpuasa dibulan romadzan kemudian ia iringi puasa enam hari dibulan syawal atau tidak?

JAWABAN : Dzahirnya hadits, barangsiapa yang mempunyai hutang dibulan ramadzan dan berpuasa enam hari dibulan syawal, maka tidak bisa dikatakan baginya (mendapatkan keutamaan hadits ini) “berpuasa dibulan ramadzan kemudian ia iringi enam haro dibulan syawal’, karena tidak dinamakan puasa ramadzan melainkan apabila ia menyempurnakan hitungannya. Ini adalah pendapat yang diikuti oleh al-hafidz ibnu rajab al-hambaly dalam ‘lathaif al-ma’arif, hal : 249, ia mengatakan : “Barangsiapa yang mempunyai qodza’ dibulan ramadzan, maka hendaklah ia mulai dengan qodza’nya dibulan syawal, karena itu lebih cepat untuk melepaskan tanggungannya dan itu lebih utama dari pada puasa sunnah enam hari dibulan syawal. Karena ulama berselisih pendapat untuk orang yang mempunyai hutang puasa wajib, apakah boleh berpuasa sunnah sebelumnya atau tidak? Berdasarkan pendapat orang yang membolehkan puasa sunnah sebelum qodza’ maka tidak akan diperoleh maksud dari puasa enam hari dibulan syawal melainkan bagi orang yang menyempurnakan puasa dibulan ramadzan kemudian ia mengiringinya enam hari dibulan syawal. Sebagaimana tidak akan mendapat faidahnya (keutamaan syawal) orang yang berbuka dibulan romadzan karena udzur syar’I kemudian ia puasa syawal ditahun berikut”.

Syeikh Muhammad bin shalih al-utsaimin -semoga Allah merahmatinya- berkata :”Sepantasnya untuk waspada dalam masalah ini, karena ulama telah berselisih mengenai bolehnya puasa sunnah bagi orang yang mempunyai qodza dibulan ramadzan. Diantara mereka ada yang mengatakan makruh dan ada yang membolehkan. Hujjah orang yang mengatakan makruh adalah karena itu menyelisihi perintah untuk menyegerahkan dalam semua kebaikan. Dan hal itu seperti orang yang shalat sunnah rawatib sedangkan iqamat telah dimulai untuk shalat wajib dan dia tidak mengikuti shalat jamaah. Maka Ini termasuk mendahulukan perkara sunnah atas perkara wajib, sedangkan itu tidak benar. Adapun orang yang membolehkan maka ia berdalil karena kewajiban itu (puasa) luas waktunya, seperti orang yang shalat sunnah duhur sebelum shalat duhur. Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa mendahulukan qodza adalah lebih utama. Ada perbedaan antara perselihan ini dan perselisihan dalam masalah yang sedang kita bahas. barang siapa yang membolehkan puasa sunnah bagi orang yang mempunyai qodza maka hal itu tidak mengharuskan ia berpendapat akan adanya keutamaan bagi orang yang berpuasa enam hari sedangkan ia mempunyai hutang beberapa hari dibulan ramadzan”. (As-sharh mumti’, 6/448).

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai akhir zaman…

(Silsilah al-fatawa as-syar’iyah, terbitan dar al-hadits, dari ma’rib, diyaman, edisi ke tujuh, bulan dzul qo’dah dan dzul hihijjah, Oleh fadzilatus Syeikh Abu al-hasan Mutafa bin Isma’I As-sulaimany al-yamany, hal : 168-169, tahun, 1418 H).

Bersambung insyaAllah ta’ala…

Alih bahasa, al-faqir ilallah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (15/10/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda