Silsilah Fatawa Ulama (24) – Apakah Puasa Syawal Harus Berturut-turut ?

APAKAH PUASA SYAWAL HARUS BERTURUT-TURUT

Makkah al-mukarramah (04/10/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Silsilah al-fatawa as-syar'iyah, terbitan dar al-hadits, dari ma'rib, diyaman, edisi ke tujuh, bulan dzul qo'dah dan dzul hihijjah, Oleh fadzilatus Syeikh Abu al-hasan Mutafa bin Isma'I As-sulaimany al-yamany, hal : 167-168, tahun, 1418 H

No comments

SILSILAH FATAWA ULAMA (24) – APAKAH PUASA SYAWAL HARUS BERTURUT-TURUT ?

PERTANYAAN : Apakah puasa enam hari dibulan syawal disyaratkan setelah hari raya langsung atau boleh diakhirkan? Dan apakah disyaratkan harus berturut-turut atau boleh dipisah selama bulan syawal?

JAWABAN : mayoritas pendapat ahli ilmu membolehkan keduanya, boleh diakhirkan beberapa hari setelah lebaran atau boleh juga dipisah-pisahkan. Adapun Ulama yang berpendapat akan sunnahnya menyegerakan puasa setelah lebaran dan secara berturut-turut -seperti Imam Nawawy- tidak mengatakan bahwa keutamaan mengakhirkan dan misah-misahkan puasa syawal itu tidak ada, hanya saja ia beliau memandang bahwa itu merupakan bagian dari menyegerahkan kebaikan.

Al-imam al-qurtuby menjelaskan dalam “al-mufhim”, (3/238) akan bolehnya berselang-selingnya puasa syawal sebagaimana yang datang dalam hadits “kemudian mengirinya”. Sedangkan kalimat “tsumma” itu berfungsi menunjukkan keberaturan dengan adanya jarak waktu.

Imam Ibnu qoyim berpendapat dalam “mukhthashar as-sunan”, (3/315). Dan al-qori dalam “al-mirqo, (4/545), dan imam al-qurtuby, (3/237-238), mereka memilih untuk tidak menyambung puasa syawal dengan romadzan -yaitu setelah hari raya langsung- agar tidak dipahami oleh orang awam dan orang arab bahwa puasa tersebut adalah wajib. Dan telah terjadi kesalahan dinegara asing (bukan arab) -sebagaimana dinukil oleh sebagiam mereka- yaitu meraka melakukan sahur pada hari raya dan tidak menampakkan kesenangan seperti yang dilakukan oleh umumnya manusia pada hari raya melainkan setelah selesai puasa eman hari.

Dan telah nampak bagi saya (syeikh), bahwa mensegerahkan untuk mengerjakan kebaikan (puasa syawal) itu lebih utama dari mengakhirkannya. Kecuali apabila disana terdapat mudzarat dan tidak bisa ditepis melainkan dengan mengakirkan puasa maka ketika itu tidak mengapa untuk diakhirkan. Allah ‘alam

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai akhir zaman…

(Silsilah al-fatawa as-syar’iyah, terbitan dar al-hadits, dari ma’rib, diyaman, edisi ke tujuh, bulan dzul qo’dah dan dzul hihijjah, Oleh fadzilatus Syeikh Abu al-hasan Mutafa bin Isma’I As-sulaimany al-yamany, hal : 167-168, tahun, 1418 H).

Bersambung insyaAllah ta’ala?

Alih bahasa, al-faqir ilallah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (04/10/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda