Silsilah Fiqh Praktis (17) : Bab Ketiga – Tentang Waktu-Waktu Shalat

waktu shalat

Makkah al-mukarramah (14/07/1438 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

(Kami terjemah dari kitab al-fiqh al-muyassar fi dzauil kitab wa sunnah, karya TEAm dari ulama, dengan pengantar syeikh Shalih bin Abdul aziz al-syeikh, penerbit An-nadwah, cet. Pertama, tahun 1437 H ).

No comments

Shalat-shalat yang diwajibkan itu lima waktu dalam sehari semalam, untuk setiap shalat memiliki waktu tertentu yang telah ditentukan oleh syari’at. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”(QS. AnNisa:103). Artinya fardhu dalam waktu-waktu yang ditentukan, maka tidaklah mencukupi shalat sebelum masuk waktunya.

Berikut adalah asal waktu-waktu shalat yang disebutkan dalam hadits Ibnu Umar –Semoga Allah meridhai keduanya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda:

صَلَّيْتُمُ الظهر فإنه وقت إلى أن يحضر العصر فإذا صليتم العصر فإنه وقت إلى أن تصفر الشمس فإذا صليتم المغرب فإنه وقت إلى أن يسقط الشفق فإذا صليتم العشاء فإنه وقت إلى نصف الليل

“Waktu Sholat Zhuhur adalah ketika telah tergelincir matahari (menuju arah tenggelamnya) hingga bayangan seseorang sebagaimana tingginya selama belum masuk waktu ‘Ashar masih tetap ada selama matahari belum menguning, Waktu sholat maghrib adalah selama belum hilang sinar merah ketika matahari tenggelam, Waktu sholat ‘isya’ adalah hingga setengah malam, dan waktu shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari”. (Riwayat Muslim no : 612).

Awal waktu shalat dhuhur adalah ketika matahari telah bergeser dari tengah langit menuju arah tenggelamnya (barat) dan waktunya memanjang hingga panjang bayang-bayang seseorang semisal dengan tingginya (masuknya waktu ‘ashar), dan dianjurkan untuk disegerakan di awal waktunya, kecuali apabila cuaca sangat panas dibolehkan untuk diakhirkan hingga cuaca mendingin (yakni mendekati waktu ashar) berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال إن هذا الحر من فيح جهنم فأبردوا بالصلاة

“Apabila panas sangat menyengat, maka tunggulah waktu dingin untuk menunaikan shalat karena panas yang menyengat itu sebagian dari hembusan neraka jahannam”. (Muttafaq’alaih, Muslim no. 615, Bukhari no. 533-534).

Dan waktu shalat Ashar waktunya dimulai dari akhir waktu dhuhur hingga bayangan seseorang menjadi semisalnya dan berakhir hingga terbenamnya matahari, yakni di saat matahari terakhir menguning dan disunnahkan untuk menyegerakan di awal waktunya, yaitu shalat al wustha (shalat ashar) yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّـهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[152] Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu”. (QS. AlBaqarah: 238).

Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam telah perintahkan untuk memelihara shalat ashar, beliau bersabda:

من فاتته صلاة العصر ، فكأنما وُتر أهله وماله

“Siapa yang ketinggalan shalat Ashar, seakan dia kehilangan keluarga dan hartanya”. (Riwayat Bukhari, no: 614, dan didalamnya terdapat sabda Nabi : Barang siapa yang berdo’a dengan do’a tersebut maka syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi halal bagi pada hari kiamat ).

مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat ashar, maka terhapuslah amalannya”. (Riwayat Bukhari no.553).

Dan waktu shalat maghrib adalah dari terbenam matahari hingga sinar merah menghilang, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam:

وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ

“Dan waktu shalat magrib selama belum hilang sinar merah”. (Riwayat Muslim no.173, 1/417, ini adalah potongan dari hadits panjang tentang waktu-waktu shalat).

Dan disunnahkan untuk menyegerakan di awal waktunya, berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam:

لا تزال أمتي بخير أو قال على الفطرة ما لم يؤخروا المغرب إلى أن تشتبك النجوم

“Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka tidak mengakhirkan shalat maghrib hingga munculnya bintang-bintang”. (Riwayat Ahmad 4/174, Abu Dawud 418, Al Hakim 1/190-191 dan dishahihkan dengan syarat Imam muslim dan disepakati Adz Dzahabi).

kecuali malam di muzdalifah bagi yang sedang berihram haji, maka disunnahkan untuk mengakhirkannya hingga shalat bersamaan dengan waktu Isya’ (jama’ ta’khir). Adapun waktu shalat Isya’, maka waktunya dimulai dari menghilangnya sinar merah hingga pertengahan malam, berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam:

وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الأَوْسَطِ

“Waktu shalat Isya’ hingga pertengahan malam”. (Riwayat Muslim no. 173, ini adalah potongan dari hadits panjang tentang waktu-waktu shalat. 1/427).

Dan dianjurkan untuk diakhirkan hingga akhir waktunya selama tidak keberatan. Dan dimakruhkan untuk tidur sebelumnya, dan ngobrol yang tidak ada manfaat setelahnya, berdasarkan hadits Abi Barzah semoga Allah meridhainya bahwasanya Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam sangat tidak menyukai tidur sebelum isya dan ngobrol setelahnya. (muttafaq ‘alaih, Bukhari no. 568 dan Muslim no.647).

Dan waktu shalat fajar dimulai dari terbit fajar kedua hingga terbit matahari, dan disukai untuk menyegerakannya apabila sudah yakin bahwa fajar telah terbit.

Ini adalah waktu-waktu yang disyari’atkan untuk melaksanakan shalat lima waktu, maka wajib bagi kaum muslimin untuk terikat dengannya dan memelihara shalat tepat pada waktunya, dan tidak mengakhirkannya, karena Allah ‘Azza Wa Jalla telah mengancam orang-orang yang mengakhirkan waktunya di dalam firman-Nya:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ  (٥)

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya”. ( QS. Al Maa’uun:4-5).

Dan juga firman Allah yang artinya:

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ﴿٥٩)

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,” (QS. Maryam: 59).

Dan kata “Al Ghayyu” dalam surah ini artinya adalah siksa yang keras yang dilipatgandakan dan kejelekan serta kerugian di neraka jahannam. Semoga Allah melindungi kita dari hal itu.

Melaksanakan shalat di awal waktunya adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah dan paling utama, karena Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam pernah ditanya:

سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم أي العمل أفضل قال الصلاة لوقتها قال قلت ثم أي قال بر الوالدين قال قلت ثم أي قال الجهاد في سبيل الله فما تركت أستزيده إلا إرعاء عليه

“amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah? Beliau menjawab: “Shalat di awal waktu”. (Muttafaqun ‘alaihi, riwayat Bukhari, no: 527 dan Muslim, no: 85, dan no: 139).

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari zaman,,,,

(Kami terjemah dari kitab al-fiqh al-muyassar fi dzauil kitab wa sunnah, karya TEAm dari ulama, dengan pengantar syeikh Shalih bin Abdul aziz al-syeikh, penerbit An-nadwah, cet. Pertama, tahun 1437 H ).

Bersambung insyaAllah ta’ala…
Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (14/07/1438 H)

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda