Silsilah Fiqh Praktis (18) – Bab Kedua – Adzan dan Iqomah (Pengertian Adzan dan Iqomah serta Hukum Keduanya)

adzan dan iqamah

Makkah al-mukarramah (14/07/1438 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Kami terjemah dari kitab al-fiqh al-muyassar fi dzauil kitab wa sunnah, karya TEAM dari ulama, dengan pengantar syeikh Shalih bin Abdul aziz al-syeikh, penerbit An-nadwah, cet. Pertama, tahun 1437 H

No comments

A. Pengertiaan adzan dan iqomah.

Adzan secara bahasa adalah mengumumkan. Allah berfirman :

وَأَذَانٌ مِّنَ اللَّـهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ

“Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar”. (QS.At-taubah : 3).

Adzan disini artinya adalah mengumumkan. Adapun menurut syariat : yaitu mengumumkan waktu masuk shalat dengan dzikir tertentu.

Adapun iqomah secara bahasa adalah bentuk masdar dari kalimat “aqoma”, dan hakikat iqomah yaitu membangunkan orang dari duduk. Sedangkan menurut syariat yaitu : mengumumkan untuk melaksanakan shalat dengan dzikir tertentu sebagaimana datang dalam syariat.

B. Hukum adzan dan iqomah.

Adzan dan iqomah keduanya disyariatkan dalam shalat lima waktu bagi kaum lelaki tanpa kaum wanita. Dan keduanya merupakan fardzu kifayah. Apabila keduanya dikerjakan oleh sebagian kaum muslimin maka gugurlah dosa bagi lain. Karena keduanya merupakan syariat islam yang Nampak maka tidak boleh menggugurkannya.

Pembahasan Kedua : Syarat-Syarat Sah Adzan dan Iqomah.

1. Al-Islam : maka tidak sah dari orang kafir.
2. Al-Aql : maka tidak sah dari orang gila dan orang mabuk dan orang yang belum mumayiz, seperti ibadah-ibadah yang lain.
3. Al-Dzukuriyah : maka tidak sah dari wanita, karena suaranya adalah fitnah dan tidak pula sah dari orang banci karena tidak bisa dipastikan sebagai lelaki.
4. Hendaknya adzan diwaktu shalat: maka tidak sah sebelum waktunya, selain adzan pertama ketika shalat fajar dan shalat jumat maka diperbolehkan sebelum waktunya dan hendaknya iqomah dilakukan saat ingin mengerjakan shalat.
5. Hendaknya adzan dikerjakan secara tertib dan beruntun, sebagaimana yang datang dalam sunnah. Akan datang penjelasannya dipembahasan cara adzan dan iqomah.
6. Hendaknya adzan dan iqomah dengan bahasa arab serta dengan lafadz bahasa arab sebagaimana yang telah datang dalam sunnah.

Pembahasan Ketiga : Sifat-Sifat yang Disunnahkan Bagi Muadzin.

1. Hendaknya orang adil dan terpercaya, karena ia dipercaya dan menjadi rujukan dalam shalat, puasa, Maka janganlah merasa aman dari tipu daya para muadzin, apabila mereka tidak mempunyai sifat yang demikian (adil dan terpercaya).
2. Hendaknya mencapai aqil baligh. Dan adzan seorang anak yang mumayiz adalah sah.
3. Hendaknya mengerti waktu untuk memilih diawal waktunya. Karena jika tidak mengerti waktu bisa akan serampangan atau keliru.
4. Hendaknya mempunyai suara yang kuat agar bisa memperdengarkan adzan kepada manusia.
5. Hendaknya suci dari hadats yang kecil maupun besar.
6. Hendaknya melakukan adzan dalam keadaan suci dari hadats kecil dan besar.
7. Hendaknya ia masukan kedua jarinya dikedua telinganya. Dan ia memutarkan wajahnya kearah kenan ketika mengucapkan “HAIYA ‘ALA SHALAH”, dan ke kiri ketika mengucapkan “HAIYA ‘ALAL FALAH”.
8. Hendaklah ia melakukan adzan dengan pelan dan melakukan iqomah dengan agak cepat.

Pembahasan Keempat : Mengenai Sifat Adzan dan Iqomah.

Cara adzan dan iqomah : keduanya mempunyai cara yang datang dari sunnah Nabawiyah shallallaahu’alaihi wa sallam, diantaranya adalah apa yang datang dalam hadits Abi Mahdzurah bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadanya sendiri kalimat Adzan, maka beliau bersabda:

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، أشهد أن لا إله إلا الله، أشهد أن لا إله إلا الله، أشهد أن محمداً رسول الله، أشهد أن محمداً رسول الله، حي على الصلاة، حي على الصلاة، حي على الفلاح، حي على الفلاح، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله

“Ucapkanlah! Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Asyhadu An laa Ilaaha Illallaah, Asyhadu An Laa Ilaaha Illallaah, Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah, Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah, Hayya ‘alash Sholah, Hayya ‘alash Sholah, Hayya ‘Alal Falaah, Hayya ‘alal Falaah, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa Ilaaha Illallaah”.

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ ، قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ ، قَدْ قَامَتْ الصَّلاةُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Adapun lafadz Iqamah adalah “Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Asyhadu an Laa Ilaaha Illallaah, Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah, Hayya ‘Alash sholaah, Hayya ‘Alal Falaah, Qad Qaamatish sholaah, Qad Qaamatish sholaah, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar , Laa Ilaaha Illallaah.”

Berdasarkan hadits Anas –Semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Bilal memerintahkan untuk menggenapkan kalimat adzan dan mengganjilkan kalimat Iqamah kecuali kalimat Iqamah (Qad Qaamatish sholaah).” Maka kalimat adzan dua kali dua kali, dan kalimat Iqamah satu kali satu kali, kecuali dalam lafadz “Qad Qaamatish Sholaah” dua kali, sesuai dengan hadits sebelumnya.

Maka inilah cara adzan dan iqomah yang disunnahkan, karena sahabat Bilal dahulu yang melakukan adzan diwaktu safar maupun mukim bersama Rosulullah shallaullahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau meninggal dunia.

Jika seseorang melakukan tarji’ (yaitu pengulangan, Artinya ia mengecilkan suara syahadatain, kemudian ia mengulangi syahadatain dengan mengangkat suara. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud, no: 503.) dalam adzan atau mengulangi iqomah, maka tidak mengapa, karena hal itu merupakan perbedaan yang diperbolehkan.

Dan disunnahkan ketika adzan subuh setelah “HAIYA ‘ALA SHALAH” untuk mengucapkan “AS-SHALAH KAIRUM MINAN NAUM” (Ini adalah at-taswib, dari kalimat tsaba yatsubu, idza raja’a. seorang muadzain yang mengucapkan kalimat ini ketika shalat subuh, maka itu merupakan ruju’ darinya untuk bersegerah menuju shalat), sebanyak dua kali, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Abu mahdzurah, bahwa Rosulullah shallallah ‘alaihi wa sallam berberkata kepadanya : Apabila ketika adzan subuh maka ucapkanlah :”As-shalah khairum minan naum”. (Riwayat An-nasai, 2/7-8. Syeikh albani menshahihkannya dalam sunan An-nasai, no: 628).

Pembahasan Kelima : Apa yang Dikatakan Oleh Orang yang Mendengar Adzan dan Do’a Setelah Adzan.

Disunnahkan bagi orang yang mendengar adzan untuk mengucapkan semisal apa yang diucapkan oleh muadzin, berdasarkan hadits abi said bahwasannya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah semisal apa yang diucapkan oleh muadzin”. (Muttafaqun ‘alaini, Riwayat Bukhari, no: 611 dan Muslim no: 846).

ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ ‏.‏ قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ ‏.‏ قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

kecuali dalam kalimat HAIYA’ALATAIN (hayya ‘ala shalah dan yaiha ‘alal falah), maka dianjurkan bagi yang mendengar untuk mengucapkan “LA HAULA WA QWATA ILLA BILLAH” setelah muadzin mengucapkan “HAYYA ‘ALA SHALAH” dan “HAYYYA ‘ALAL FALAH”, berdasarkan hadits Umar bin khattab yang telah lalu dalam hal tersebut. (Riwayat Muslim, no : 385).

Apabila muadzin dalam shalat subuh mengucapkan “AS-SHALAATU KHAIRUM MINAN NAUM” maka pendengar hendaknya mengucapkan semisalnya. Dan hal tersebut tidak disunnahkan ketika iqomah. Kemudian hendaknya bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berdo’a :

اللهم رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةِ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ, إِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَادِ

“Ya Allah, penguasa panggilan yang sempurna dan shalat yang didirikan, berikanlah kepada Muhammad washilah dan keistimewaan dan tempatkanlah di tempat yang mulia yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak (pernah) menyalahi janji”. (Riwayat Bukhari, no: 614. Barangsiapa yang mengucapkan doa tersebut maka halal baginya syafaatku pada hari kiamat).

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari zaman,,,,

(Kami terjemah dari kitab al-fiqh al-muyassar fi dzauil kitab wa sunnah, karya TEAM dari ulama, dengan pengantar syeikh Shalih bin Abdul aziz al-syeikh, penerbit An-nadwah, cet. Pertama, tahun 1437 H ).

Bersambung insyaAllah ta’ala…

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (14/07/1438 H)

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda