Silsilah Fiqh Praktis : Bab Ke-3 – Mengenai Buang Hajat dan Adab-Adabnya

buang hajat dan adab-adabnya

Makkah al-mukarramah (01/09/1437H

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab Al-fiqh Al-muyassar, fi dhau Al-kitab wa As-sunnah, karya TIM dari para ulama dan direkomendasi oleh fadhilatu as-syaeikh, shalih bin Abdul Aziz ali as-syeikh, hal : 25, penerbit dar al-majd, cet : 1, tahun : 1433 H).

No comments

SILSILAH FIQH PRAKTIS (Bab ke – 3)

MENGENAI BUANG HAJAT DAN ADAB-ADABNYA, DI DALAMNYA TERDAPAT BEBERAPA PEMBAHASAN

PEMBAHASAN PERTAMA : ISTINJA’ DAN ISTIJMAR SERTA SALAH SATU DARI KEDUANYA DAPAT MENDUDUKI YANG LAIN.

Istinja’, yaitu menghilangkan sesuatu yang keluar dari dua jalan dengan air. Sedangkan Istinja’, yaitu mengusap sesuatu yang keluar dari dua jalan dengan sesuatu yang suci, mubah, suci, seperti batu dan semisalnya. Salah satu dari keduanya bisa mencukupkan yang lain, karena tetapnya hal itu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dari Anas semoga Allah meridhainya ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasuki WC. Lalu aku dan anak lain yang seusia denganku membawakan beliau setimba air dan sebuah tombak kecil. Beliau lantas bersuci dengan air.” (HR. Muslim no.271) dan dari Aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: Jika salah seorang di antara kalian hendak buang hajat, maka hendaklah membawa tiga buah batu. Dan hendaklah ia bersuci dengannya, karena itu mencukupinya.” (HR. Ahmad no. 6/108 dan Daruquthni no. 144 beliau mengatakan sanadnya shahih).

Istijmar bisa diperoleh dengan batu, atau apa saja yang bisa menggantinya dari sesuatu yang suci, bersih dan mubah. Seperti sapu tangan, kayu dan semisalnya. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dahulu beristijmar dengan batu, maka beliau sertakan semua yang menyerupainya dalam kesucian. Dan tidaklah cukup istijmar kurang dari tiga usapan. Berdasarkan hadits Salman -semoga meridhainya- : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang kami istinja dengan tangan kanan, istinja kurang dari tiga batu, serta intinja dengan kotoran atau tulang. (Riwayat Muslim, no: 262).

PEMBAHASAN KEDUA : MENGHADAP KIBLAT ATAU MEMBELAKANGINYA KETIKA BUANG HAJAT.

Tidak diperbolehkan menghadap atau membelakanginya Kiblat ketika buang hajat di padang pasir tanpa adanya penghalang. Berdasarkan hadits Abi Ayub Al-anshari –semoga Allah meridhainya- ia berkata Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Jika kalian hendak buang hajat, janganlah menghadap dan membelakangi kiblat. Tapi, menghadaplah ke timur atau ke barat.”. Abu Ayub berkata : kami datang ke negeri syam, maka kami menjumpai toilet-toilet telah dibangun menghadap ke arah qiblat, maka kami berpaling darinya dan mohon ampun kepada Allah. (Riwayat Bukhari dalam kitab al-wudzu, no: 148 dan Muslim, no: 266). Adapun apabila di dalam bangunan atau adanya sesuatu yang menutupi antara seseorang dengan qiblat, maka hal itu tidak mengapa. Berdasarkan hadits Ibnu Umar –semoga Allah meridhai keduanya- , bahwasannya ia melihat Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kencing di rumah menghadap ke Syam, membelakangi ka’bah. (Riwayat Bukhari,no: 148 dan Muslim, no: 266). Dan hadits marwan al-ashghar, ia berkata :”Ibnu umar menambatkan untanya menghadap ke arah qiblat, kemudian ia duduk kencing menghadap kepadanya, maka aku bertanya : wahai Aba Abdirrahman, bukankah dilarang dari hal ini? Maka ia menjawab : sesungguhnya dilarang dari ini di tempat terbuka, adapun apabila antara kamu dan qiblat terdapat sesuatu yang menutupi maka hal itu tidak mengapa. (Riwayat Abu Dawud, no: 11), Ad-daruqutny, no: 158, Al-hakim, 1-154 dan dishahihkan oleh ad-daruqutny dan Al-hakim dan disetujui oleh Ad-dzahaby, dihasankan oleh Al-hafidz ibnu , al-hazimy dan Syeikh Al-bany, lihat Al-irwa’, no: 61).

PEMBAHASAN KE TIGA : HAL – HAL YANG DISUNNAHKAN BAGI ORANG YANG MASUK TOILET.

Disunnahkan bagi orang yang masuk toilet untuk mengucapkan : BISMILLAH ALLAAHUMMA INNI A’UUDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHABAA ISTI, “Dengan Nama Allah, Ya Allah berlindung kepadaMu dari syetan (laki-laki) dan syetan (Perempuan)”. dan ketika selesai dan keluar mengucapkan : GHUFRAANAKA, “Ya Allah ampunilah aku”, dan mendahulukan kaki kiri ketika masuk dan kaki kanan ketika keluar dan tidak membuka auratnya sehingga mendekat ke tanah.

Dan apabila buang hajat di tempat terbuka, maka dianjurkan baginya untuk menjauh dan menutupi agar tidak terlihat. Diantara dalil-dalil semuanya itu adalah hadits Jabir –semoga Allah meridhainya- ia berkata : “Kami keluar bersama Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan dan Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam tidak buang hajat melainkan bersembunyi hingga tidak terlihat”. (Riwayat Abu Dawud, no:2), Ibnu Majah, no: 335). Lafadz ini adalah miliknya dan sanadnya adalah shahih. Lihat shahih Ibnu majah, 1/60.

Hadits Ali –semoga Allah meridhainya- ia berkata, Rosulullah shallaaalhu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Penghalang antara jin dan aurat anak Adam jika salah seorang dari kalian memasuki al khalaa’ adalah ia mengucapkan, “Bismillah”. (Riwayat Ibnu Majah, no: 297, Tirmidzi, no: 606, dihasankan oleh Syeikh Ahmad Syakir dalam Hasyiyah At-tirmidzi. Dishahihkan oleh Syeikh Al-bany dalam “Shahih Al-jami’ As-shagir”, no: 3611).

Hadits Anas –semoga Allah meridhainya-, adalah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau masuk toilet beliau mengucapkan :” BISMILLAH ALLAAHUMMA INNI A’UUDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHABAA ISTI, “Dengan Nama Allah, Ya Allah berlindung kepadaMu dari syetan (laki-laki) dan syetan (Perempuan)”. (Riwayat Bukhari, no: 142 dan Muslim, no: 375).

Dan Hadits dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- bahwasanya Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam apabila keluar dari toilet beliau membaca: ”GHUFRAANAKA, Ya Allah Ampunilah aku”. (HR. Abu Dawud no.17, Tirmidzi no.7, beliau mengatakan hadits ini hasan gharib, dan dihasankan oleh al bani di di dalam shahih jami’ ash shagir no. 4707)

Hadits Ibnu Umar –semoga Allah meridhai keduanya- bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam apabila hendak buang hajat beliau tidak mengangkat pakaiannya kecuali sudah mendekat ke tanah.” (HR. Abu Dawud no.14, Tirmidzi no. 14, dan dishahihkan oleh al bani, silahkan lihat di shahih jami’ ash shagir no. 4652)

PEMBAHASAN KE EMPAT : HAL – HAL YANG DIHARAMKAN BAGI ORANG YANG MASUK TOILET.

Kencing di air yang menggenang adalah haram. Berdasarkan hadits jabir dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya ia melarang kencing dalam air yang tergenang. (Riwayat Bukhari, no: 239, Muslim, no: 281). Yang dimaksud dengan Ar-raked yaitu air yang diam, tidak mengalir.

Demikian pula tidak memegang (kemaluannya) dengan tangan kanannya ketika kencing dan istinja (membersihkan kotoran) dengan tangan kanan, berdasarkan sabda Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :”Apabila salah seorang dari kalian kencing, maka janganlah memegang kemaluan atau istinja’ (membersihkan kotoran) dengan tangan kanannya.

Diharamkan pula baginya kencing atau buang kotoran di jalanan, tempat teduh, taman umum, di bawah pohon yang berbuah, saluran-saluran air, berdasarkan riwayat mu’adz, ia berkata : Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Berhati-Hatilah kalian terhadap tiga hal yang dapat mendatangkan laknat : buang hajat di mawaarid (jalan/saluran air), di tengah jalan, dan di tempat berteduh manusia”. (Riwayat Abu Dawud, no: 26, Ibnu majah, no: 328. Isnadnya adalah hasan. Lihat irwaul ghalil, 1/100).

Dan hadits Abi Hurairah –semoga Allah meridhainya- sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Jauhilah dua perkara yang mengundang laknat. Mereka bertanya, ‘Apakah dua perkara yang mengundang laknat itu, ya Rasulullah?.’” Beliau berkata: Orang yang buang hajat di jalan orang-orang atau di tempat berteduh mereka.” (Riwayat Muslim, no: 269).

Sebagaimana haram baginya istinja’ dan istijmar (membersihkan kotoran) dengan kotoran hewan, tulang dan makanan. Berdasarkan hadits jabir –semoga Allah meridhainya :” ia berkata, “Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam mencegah mengusap (qubul dan dubur) dengan tulang atau kotoran hewan”. (Riwayat Muslim, no: 263).

Diharamkan pula membuang hajat diantara kuburan kaum muslimin. Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :” Tidak ada beda keburukannya bagiku sama ada membuang hajat di tengah perkuburan atau di tengah pasar (kedua-duanya amat buruk, maka jangan melakukannya)”. (Riwayat Ibnu majah, no: 1567, dishahihkan oleh syeikh al-bany dalam Irwa al-ghalil, 1/102).

PEMBAHASAN KE LIMA : HAL-HAL YANG MAKRUH BAGI YANG BUANG HAJAT.

Menghadap ke arah tiupan angin tanpa penutup ketika buang hajat adalah makruh, agar kencing tidak berbalik kepadanya. Demikian pula makruh berbicara. Suatu ketika seseorang lewat sedangkan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kencing, maka ia mengucapkan salam kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun tidak menjawabnya. (Riwayat Abu dawud, no: 20, Nasa’I, no: 34, Ibnu hajar menukil keshahihannya dalam talkhis, 1/106 dari Ibnu khuzaimah dan Ibnu sakan. Syikh Ibnu utsaimin –semga Allah merahmatinya- berkata : minimal keberadaanya adalah hasan, syarh mumti’, 1/96-95).

Demikian pula dimakruhkan kencing di suatu sisi (tempat pojokan) dan semisalnya, berdasarkan hadits Qatadah dari Abdullah Bin sarjas bahwasanya Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam melarang kencing di lobang, lalu Qatadah ditanya: apa yang dimaksud dengan juhr (Lobang)? Beliau menjawab: dikatakan bahwa itu termasuk tempat tinggalnya jin.”

(Riwayat Abu Dawud no.29, Nasai no. 34, Al Hafidz Ibnu Hajar telah menukil di dalam At Talkhish 1/106, tashhihnya dari Ibnu Khuzaimah dan Ibnu sakan. Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan: paling sedikit keadaannya hendaklah Hasan (Syarh Mumti’ 1/95-96). Dan karena tempat tersebut tidak aman dari binatang yang akan menyakitinya atau tempat tinggalnya jin sehingga akan menyakiti mereka).

Dan makruh hukumnya masuk tailet dengan sesuatu yang terdapat dzikir di dalamnya melainkan untuk hajat (suatu kebutuhan), karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :”Dahulu apabila masuk toilet maka beliau meletakkan cincinnya. (Riwayat Abu Dawud no.19, Tirmidzi no, 1746, Nasai no.5228, Ibnu Majah 303, Abu Dawud mengatakan setelah mentakhrij hadits ini: ”Ini adalah hadits munkar”, Imam Tirmidzi mengatakan: ”ini adalah hadits hasan gharib”, syekh al bani pun mendha’ifkan hadits ini, dan menurut pendapat dengan mendha’ifkan hadits ini dan tidak menganggapnya baik dengan beberapa alasan di dalam pembahasan ini, dan yang lebih utama adalah tidak masuk wc/toilet dengan membawa sesuatu yang terdapat nama Allah tanpa adanya keadaan yang darurat, sebagai penghormatan atas nama Allah dan pemuliaan terhadapNya)

Adapun ketika hajat atau kebutuhan dan keadaan darurat maka tidak mengapa, seperti hajat masuk tailet dengan membawa uang kertas yang di dalamnya terdapat nama Allah, karena jika seseorang meninggalkan uang di luar, niscaya akan menjadi umpan pencurian atau lupa.

Adapun mushaf Al Qur’an, maka diharamkan masuk dengannya, baik dengan terang-terangan atau menyembunyikan. Karena sesungguhnya Al-qur’an adalah kalamullah dan merupakan perkataan yang paling mulia. Sehingga masuk dengan membawanya termasuk bentuk dari penghinaan.

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai akhir zaman,,,,

(kitab Al-fiqh Al-muyassar, fi dhau Al-kitab wa As-sunnah, karya TIM dari para ulama dan direkomendasi oleh fadhilatu as-syaeikh, shalih bin Abdul Aziz ali as-syeikh, hal : 25, penerbit dar al-majd, cet : 1, tahun : 1433 H).

Bersambung insyaAllah ta’ala…

Alih bahasa, al-faqir ilallah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (01/09/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda