Silsilah Fiqh Praktis (Bab Ke-4) – Siwak dan Sunnah-Sunnah Fitrah

siwak

Makkah al-mukarramah (07/09/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab Al-fiqh Al-muyassar, fi dhau Al-kitab wa As-sunnah, karya TIM dari para ulama dan direkomendasi oleh fadhilatu as-syaeikh, shalih bin Abdul Aziz ali as-syeikh, hal : 24-27, penerbit dar al-majd, cet : 1, tahun : 1433 H

1 comment

SILSILAH FIQH PRAKTIS (BAB KEEMPAT)

SIWAK DAN SUNNAH-SUNNAH FITRAH, DI DALAMNYA TERDAPAT BEBERAPA PEMBAHASAN

Siwak : yaitu memakai kayu ‘ud dan semisalnya untuk membersihkan gigi atau gusi serta menghilangkan kotoran dan bau yang menempel pada keduanya.

PEMBAHASAN PERTAMA : HUKUM SIWAK

Siwak sangat dianjurkan dalam setiap waktu, sampai orang yang berpuasa jika ia bersiwak maka hal itu tidak mengapa, baik pada siang hari atau pada akhirnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan hal itu secara umum dan tidak membatasi dengan waktu tertentu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Siwak adalah kebersihan bagi mulut dan mendatangkan keridhaan Allah”. (Riwayat Bukhari dalam kitab as-shaum, 2/40 mu’alaqon dengan shighah jazm, riwayat Ahmad, 6/47, An-nasai’, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-albany dalam kitab al-irwa’, 1/105). Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :”Andaikata Aku tidak memberatkan atas umatku niscaya aku akan perintah mereka untuk memakai siwak ketika mau shalat”. (Muttafaqun ‘alaihi, Bukhari, no: 887 dan Muslim dalam kitab taharah, no: 202).

PEMBAHASAN KEDUA : KAPANKAH SIWAK MENJADI SUNNAH MUAKKAD?

Siwak menjadi sunnah muakad ketika mau berwudhu, ketika terjaga dari tidur, ketika bau mulut menjadi berubah, ketika membaca al-qur’an, dan ketika mau shalat serta ketika masuk masjid dan rumah, berdasarkan hadits miqdam bin syuraih, dari bapaknya, ia berkata , Aku bertanya kepada Aisyah dengan mengatakan : Dengan apakah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mulai apabila beliau masuk rumah? Maka Aisyah –semoga Allah meridzainya- menjawab : ”Dengan siwak.” (Riwayat Muslim, no: 253). Demikian pula apabila lama berdiam, gigi menjadi warna kuning, berdasarkan hadits-hadits yang telah lalu. Dan apabila Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun dari tidur maka ia menggosak mulutnya dengan siwak. (Muttafaqun ‘alaihi, Bukhari dalam kitab wudhu, bab siwak, no: 245, Muslim dalam kitab thaharah, bab siwak, no: 255). Seorang muslim diperintahkan ketika ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah supaya berada di atas keadaan yang paling sempurna, baik dari sisi kebersihan maupun keindahan.

PEMBAHASAN KETIGA : DENGAN APAKAH BERSIWAK?

Dianjurkan bersiwak dengan kayu ‘ud basah yang belum terurai dan agar tidak melukai mulut. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu bersiwak dengan kayu ‘ud. Dan diperbolehkan juga bersiwak dengan tangan yang kanan. Permasalahan dalam hal ini adalah luas. Jika tidak mempunyai ‘ud yang dipakai ketika wudhu maka diperbolehkan bersiwak dengan jari, sebagaimana sahabat Ali –semoga Allah meridhainya- meriwayatkan bahwa hal itu dari tata cara wudhu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

PEMBAHASAN KEEMPAT : MANFAAT-MANFAAT SIWAK?

Diantara manfaat yang paling penting sebagaimana dalam hadits yang telah lalu yaitu sesungguhnya siwak adalah pembersih mulut di dunia dan mendatangkan ridha Allah di akhirat. Maka sepatutnya bagi seorang muslim untuk menjaga sunnah ini dan tidak meninggalkannya karena di dalamnya terdapat manfaat yang sangat besar. Kadang-kadang sebagian kaum muslimin melewati waktu yang lama, baik sebulan, dua bulan sedangkan mereka tidak pernah bersiwak, ada kalanya karena malas dan ada kalanya karena ketidaktauan. Maka sungguh telah terlewatkan oleh mereka pahala yang sangat besar dengan sebab mereka telah meninggalkan sunnah ini, yang selalu dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hampir-hampir beliau memerintahkan umatnya dengan perintah wajib sekiranya hal itu tidak memberatkan mereka.

Dan para ahli ilmu telah menyebutkan manfaat-manfaat siwak yang lain, diantaranya adalah menguatkan gigi, mengencangkan gusi, menjernihkan suara dan membuat seorang hamba menjadi semangat.

PEMBAHASAN KELIMA : SUNNAH-SUNNAH FITRAH ?

Dinamakan juga dengan perangai-perangai fitrah, hal tersebut karena pelakunya disifati dengan fitrah yang Allah ciptakan manusia di atasnya serta mendorong mereka kepadanya supaya mereka berada di atas keadaan paling baik serta bentuk yang sempurna.

Dari Abi Hurairah –semoga Allah meridzainya- ia berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bersabda : Ada lima perkara yang merupakan fitrah, memotong bulu kemaluan, khitan, mencukur kumis, mencabut ketiak dan memotong kuku. (Muttafaqun ‘alaihi, Riwayat Bukhari, no: 5889, Muslim, no: 257).

1. Istihdad : adalah memotong bulu kemaluan, yaitu rambut yang tumbuh disekitar kemaluan. Dinamakan demikian karena memakai alat yang terbuat dari besi, seperti gunting, pisau dan yang lainnya. Menghilangkannya merupakan keindahan dan kebersihan dan dibolehkan untuk menghilangkannya dengan tanpa mencukur, seperti pembersih buatan.

2. Khitan : adalah menghilangkan kulit yang menutupi kepala dzakar, hingga kepala dzakarnya nampak. Dan ini adalah haknya seorang laki-laki. adapun perempuan yaitu dengan memotong daging tambahan yang ada di atas tempat masuk. Dikatakan juga bahwa ia serupa dengan balung (jengger) ayam jantan. Yang benar adalah bahwa khitan wajib untuk kaum laki-laki dan sunnah bagi kaum wanita.

Hikmah khitan bagi kaum laki-laki adalah : membersihkan dzakar dari najis yang terdapat dalam kulit uang menutupi kepala dzakar, dan faidahnya banyak sekali. Adapun hikmah bagi kaum wanita adalah untuk mempersedikit nafsu atau syahwatnya. Dan khitan ini disunnahkan dilakukan pada hari ke tujuh lahiran, karena pada waktu itu cepat sembuh dan supaya si kecil tumbuh dengan keadaan yang sempurna.

3. Memotong kumis dan memendekkannya, yaitu dengan melebihkan di dalam memotongnya karena itu adalah merupakan keindahan dan kebersihan serta menyelisihi orang-orang kafir.

Dan telah banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan untuk memotongnya (kumis) dan membiarkan jenggot dan memuliakannya, karena dengan adanya jenggot akan nampak keindahan dan sifat kelaki-lakian. Dan dalam hal ini kebanyakan manusia sudah terbalik, mereka memperlebat kumis dan memotong jenggot-jenggot mereka atau memendekkanya. Dan semua ini menyelisihi sunnah dan perintah-perintah yang datang akan wajibnya membiarkan jenggot..diantaranya adalah hadits Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda: ”Cukurlah kumis dan panjangkanlah jenggot. Selisihilah kaum Majusi.” (HR. Muslim no. 260) dan hadits Ibnu Umar –semoga Allah meridhai keduanya- dari Nabi Shallallaahu’alaihi wa sallam beliau bersabda:”selisihilah orang-orang musyrik, biarkanlah jenggot dan potonglah kumis”. (Muttafaq ‘alaih).

Maka kewajiban bagi seorang muslim untuk komitmen dengan petunkuk Nabi ini dan menyelesihi musuh-musuh serta tidak menyerupai dengan wanita.

4. Memotong kuku : yaitu mengguntingnya dan tidak membiarkannya panjang. Karena memotongannya akan dapat menjadikannya indah, membersihkan kotoran-kotoran yang bertumpuk di bawahnya. Sebagian kaum muslimin menyelisihi fitrah ini, mereka memanjangkan semua kuku atau sebagian yang ada dari tangan mereka. Semua itu merupakan hiasan syetan dan mengikuti musuh-musuh Allah.

5. Mencabut bulu ketiak: yaitu menghilangkan rambut yang tumbuh padanya. Maka dianjurkan untuk menghilangkan rambut ini dengan mencabut, mencukur atau selain keduanya. Karena menghilangkan adalah kebersihan, mengusir bau yang berkumpul karena adanya rambut tersebut. Inilah agama kita yang hanif, yang memerintahkan kepada kita dengan perangai-perangai yang didalamnya terdapat keindahan dan kebersihan agar seorang muslim berada diatas keadaan yang paling baik, jauh dari mengikuti orang-orang kafir, berbangga dengan agamanya, taat kepada Robb-Nya, mengikuti sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ditambahkan kepada perangai-perangai ini lima hal : yaitu siwak, menghirup air ketika berwudzu, berkumur-kumur serta mencuci barajim, lipatan-lipatan dipermukaan kulit, yang merupakan tempat berkumpulnya kotoran didalamnya, dan intinja’. Hal itu berdasarkan hadits Aisyah –semoga Allah meridzainya- ia berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Sepuluh perkara yang merupakan fitrah : memotong kumis, membiarkan janggut, siwak, menghirup air, memotong kuku, memcuci barajim, mencabut bulu ketiak, mencukur buluh kemaluan, istinja’, Mush’ab bin syaibah –salah seorang perawih hadits- berkata : Dan aku lupa yang kesepuluh, melainkan berkumur. (Riwayat Muslim, no: 261).

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai akhir zaman….

(kitab Al-fiqh Al-muyassar, fi dhau Al-kitab wa As-sunnah, karya TIM dari para ulama dan direkomendasi oleh fadhilatu as-syaeikh, shalih bin Abdul Aziz ali as-syeikh, hal : 24-27, penerbit dar al-majd, cet : 1, tahun : 1433 H).

Bersambung insyaAllah ta’ala…

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (07/09/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Comment: 1


    Warning: call_user_func() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'cahayaummulquro-final_comment' not found or invalid function name in /home/cahayaum/public_html/wp/wp-includes/class-walker-comment.php on line 174