Berhati-Hati dari Memuji Diri Sendiri – Kaidah Kedua ( Silsilah Ilmu Dialog & Diskusi Ilmiyah (13))

Silsilah Ilmu Dialog & Diskusi Ilmiyah

Makkah al-mukarramah (13/11/1437H).

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab ad-dzawabid al-fiqhiyah li at-ta'amul ma'a al-mukhalif fil al-masail al-ashliyah wa al-far'iyah, karya syeikh Ahmad bin sa'ad hamdan al-ghamidy, cet daar ibnu rajab dan daal lr dirasat al-ilmiyah ke enam, tahun : 1433 H, hal : 33-34

No comments

Berhati-hati dari Memuji Diri Sendiri – Kaidah Kedua (Silsilah Ilmu Dialog dan Diskusi Ilmiyah (13))

Apabila seseorang dari saudaramu menyelesihi kamu dalam suatu pemahaman atau hukum suatu masalah, maka tidak pantas bagimu untuk meyakini bahwa kamu adalah yang paling benar secara sempurna tanpa adanya kemungkinan salah, dan lawan kamu salah total tanpa adanya kemungkinan kebenaran bersamanya. Karena pandangan ini -disamping itu merupakan kedzaliman- maka itu adalah rekomendasi untuk dirimu sendiri, pujian terhadap pemahamanmu dan pemahaman orang yang engkau taqlid kepadanya.
Yang benar adalah engkau perkirakan kadar kesalahan walaupun sedikit terhadap pemahamanmu, hukum-mu. Demikian pula sedikit kadar kebenaran bagi yang menyelisihimu. Hal itu dikarenakan kamu tidak mempunyai dalil yang pasti atas kebenaranmu atau kesalahan dia.

Dengan demikian mungkin bisa terbuka pintu dialog dan terbentuk medan pendekatan antara dua orang yang berselisih, serta dapat dilebur tumpukan edialisme yang terdapat pada kedua orang yang sedang berdialog.

Pensyarah al-asybah wa an-nadzair -semoga Allah merahmatinya- :”Faidah, ia berkata di akhir kitab al-musyaffah : Apabila kami ditanya tentang madzhab kami dan orang-orang yang menyelisihi kami dalam masalah furu’, maka wajib kami menjawab : bahwa madzhab kami adalah benar tapi mungkin bisa salah dan madzhab orang yang menyelisihi kami adalah salah tapi mungkin bisa benar. Karena apabila kamu pastikan dalam suatu pendapat (semuanya benar) niscaya ucapan kita bahwa “setiap mujtahid bisa salah dan bisa benar” itu tidak benar.

Dan apabila kami ditanya tentang keyakinan kami dan keyakinan lawan kami dalam masalah aqidah (tauhid) maka wajib kami jawab : kebenaran adalah apa yang pada kami dan kebatilan adalah apa yang ada pada musuh kami. Demikianlah dinukil dari para ulama -semoga Allah merahmati mereka. (ghomzu ‘uyun al-basyair bisyarh al-asybah wa an-nadzair, 7/263).

Ini adalah berdasarkan madzhab ahlu kalam. Mereka memberikan udzur dalam masalah furu’ (cabang) dan tidak memberikan udzur dalam masalah ushul (prinsip) atau aqoid (keyakinan). Dan ini menyelisihi madzhab salaf dimana mereka memberikan udzur dalam semua kesalahan. Karena ketika Allah ta’ala mengajarkan kepada kita untuk berdo’a :

لَا يُكَلِّفُ اللَّـهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ ﴿٢٨٦﴾

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Al-baqoroh, ayat : 286).

Maka Allah ta’ala menjawab : Sesunggunya Aku telah kerjakan (yaitu memaafkan hamba-Nya yang meminta maaf kepada-Nya).

Syikhul islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmatinya- berkata : “Kebanyakan apa yang diperselisihkan oleh kelompok-kelompok kaum muslimin dalam masalah-masalah prinsip maupun yang lainnya baik asma wa sifat, taqdir, imamah dan yang lainnya adalah merupakan bagian dari bab ini dan di dalamnya ada mujtahid yang benar dan ada mujtahid yang salah”. (Al-istiqomah : 1/37).

Akan datang tambahan penjelasan insyaAllah ta’ala dalam kaidah-kaidah yang datang. Barang siapa yang diberi udzur kesalahan dalam masalah furu’ mengharuskan diberi udzur dalam hal yang lainnya. Selama sebabnya adalah kesalahan, karena nash-nash syariat tidak membedakan antara keduanya. Allahu ‘alam.

Demikian semoga bermanfaat, tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai akhir zaman,,,,

(kitab ad-dzawabid al-fiqhiyah li at-ta’amul ma’a al-mukhalif fil al-masail al-ashliyah wa al-far’iyah, karya syeikh Ahmad bin sa’ad hamdan al-ghamidy, cet daar ibnu rajab dan daal
lr dirasat al-ilmiyah ke enam, tahun : 1433 H, hal : 33-34).

Bersambung insyaAllah ta’ala??

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (13/11/1437H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda