Sunnah-sunnah Wudhu yang Terlupakan

Sunnah-sunnah Wudhu yang Terlupakan

Makkah Al-Mukarramah ( 13/6/1434 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

dari beberapa sumber

No comments

Banyak diantara kita yang mengetahui amalan-amalan sunnah dalam sebuah ibadah tertentu, akan tetapi sedikit diantara kita yang dapat mengerjakannya dengan istiqomah –kendatipun ini merupakan masalah yang mudah dan kecil. Akan tetapi karena ketidakbiasaan kita akhirnya menjadi sesuatu yang terlupakan atau terabaikan. Sehingga kemudian menjadi sesuatu yang besar, yaitu meninggalkan sunnah tanpa kita sadari. Allahu musta’an….

Berkumur Dan Menghirup Air Dengan Satu Tangan

Diantara sunnah yang banyak diabaikan oleh kaum muslimin adalah berkumur dan menghirup air ketika berwudhu dengan satu tangan. dalam hal ini Al-Imam Ibnu Qoyim mengatakan:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu menggabungkan antara berkumur dan menghirup air, maka ia menjadikan setengah ciduk ke mulutnya dan setengah ciduk ke hidungnya. Dan tidak mungkin (dipakai -pent) satu ciduk melainkan untuk ini. Adapun dua atau tiga ciduk maka bisa dengan cara menggabungkan atau memisahkan, akan tetapi petuntuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah menggabungkan antara keduanya (berkumur dan menghirup air)” [1].

Di antara dalil yang menunjukan akan sunnahnya amalan ini, adalah hadits-hadits yang akan kami sebutkan, yaitu:

1. Dari Abdillah bin Zaid –mengenai sifat wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuangkan air dari bejana ke kedua tangannya, lalu mencuci kedua tangannya, kemudian mencuci atau berkumur dan menghirup air dari satu telapak tangan. Ia kerjakan hal itu tiga kali. Kemudian Abdullah Zaid berkata: demikianlah wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”[2].

Ibnu Hajar –semoga Allah merahmatinya- berkata: “ini merupakan dalil yang jelas, yaitu menggabungkan pada setiap kali (dalam berwudhu-pent)”[3]. Ia juga mengatakan: “dipakai dalil dengan hadits ini akan sunnahnya menggabungkan antara berkumur dan menghirup air dari setiap satu ciduk”.

Imam An-nwawy –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas untuk madzhab yang benar, bahwa sunnah dalam berkumur dan menghirup air yaitu tiga ciduk, dalam setiap berkumur dan menghirup air”[4].

2. Dari Ibnu Abbas –semoga Allah meridhainya- “Sesungguhnya ia berwudhu, maka ia membasuh mukanya, lalu mengambil satu ciduk air, kemudian ia berkumur dan menghirup air…” (al-hadits), kemudian ia berkata: “demikianlah aku melihat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berwudhu”[5].

Ibnu Hajar Al-Asqalaany berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil penggabungan antara berkumur dan menghirup air dalam satu ciduk”[6].

3. Dari Ali –semoga Allah meridhainya-: “Sesungguhnya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, maka ia berkumur tiga kali dan menghirup air tiga kali dari satu tangan”, dan dalam lafadz yang lain “kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumur dan mengeluarkan air dari hidung tiga kali, berkumur dan menghirup dari tangan yang ia pakai untuk mengambil air”[7].

Imam As-Sun’any berkata: “ini adalah termasuk dalil penggabungan” (antara berkumur dan menghirup air-pen)[8].

Cara Mengerjakannya?

Disana juga terdapat riwayat shahih yang menguatkan akan sunnahnya amalan ini, akan tetapi riwayat ini menjelaskan dari sudut lain, yaitu bagaimana seharusnya cara mengamalkan sunnah yang mulia ini? Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Dari Luqoit Bin Shabarah –semoga Allah meridhainya- ia berkata: “Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “sempurnakanlah wudhu dan sela-selailah antara jari jemari serta bersungguh-sungguhlah dalam masukan air ke hidung, kecuali jikaa engkau berpuasa”[9].

Imam As-Shan’any –semoga Allah merahmatinya- berkata: “hadits ini merupakan dalil atas (sunnahnya -pent) sungguh-sungguh dalam menghirupkaan air bagi yang tidak berpuasa, supaya tidak turun sesuatu ke tenggorokan yang bisa membatalkan puasanya, dan hal itu menunjukan bahwa bersungguh-sungguh dalam menghirup air ke hidung bukan suatu kewajiban, karena jika wajib pasti dengan perintah berhati-hati dan tidak boleh ditinggalkan”[10]. Sebagaimana ungkapan yang semisalnya juga dikatakan oleh Syeikh Al-Bassam[11].

Peringatan Penting:

Disana riwayat yang berbeda dengan riwayat-riwayat diatas, yaitu datang dari thalhah bin masrif, dari bapaknya, dari kakeknya ia berkata: “aku melihat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisahkan antara berkumur dan menghirup air”[12].

Akan tetapi ini adalah riwayat yang lemah, karena adanya dua rawi, yaitu:

Pertama: Laits Bin Abi Salim, ia adalah lemah.

Kedua: Masrhaf, bapaknya Thalhah adalah seorang yang majhul al-hal.

Secara singkat dan ringkas, hadits ini telah dilemahkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Buluughul Maram[13]. Sebagaimana ia telah menukil ucapan Imam Nawawy dalam kitabnya Tahdzib Al-Asma Wa Al-Lughaat, yang mengatakan: “ulama telah sepakat akan lemahnya hadits ini”[14]. Demikian pula Ibnu Mulaqqin[15].

Al-Imam Ibnu Qoyyim berkata: “dan tidak datang pemisah antara berkumur dan menghirup air dalam satu hadits pun yang shahih. Adapun hadits tolhah…maka ia menyebutkannya. Akan tetapi tidaklah diriwayatkan melainkan dari thalha, dari bapaknya, dari kakeknya, sedangkan kakeknya tidak dikenal akan kesahabatannya”[16].

Semoga Allah selalu berikan kepada kita kekuatan untuk berpegang teguh dengan sunnah-ssunnah, baik dalam perkara-perkara yang kecil maupun besar, berhubungan dengan lahir maupun batin, sampai kita menghadap kepada Allah, sehingga menjadi orang yang beruntung disisi-Nya. amiin

Al-fakiir ila afwi Robbih
Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu harits
Makkah Al-Mukarramah
( 13/6/1434 H )

Catatan kaki:
[1] Lihat Zadul Maad (1/192).
[2] Dikeluarkan oleh Bukhari (no:191), Muslim (no:325), Abu Dawud (no:119), Tirmidzi (no:28).
[3] Fath al-Baary(1/349).
[4] Syarh Muslim (2/124), lihat Sunan at-Tirmidzy (1/43).
[5] Dikeluarkan oleh Bukhari (140) dan Ibnu Majah (403).
[6] Fath al-Baary: (1/291).
[7] Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no:111), At-Tirmidzi, (no: 49), ia berkata: ini hadits hasan yang shahih.
[8] Lihat Subulu As-Salam (1/54) dan Taudih Al-Ahkam (1/195)
[9] Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud (no:142), At-tirmidzi (no: 38) dan ia berkata: “hadits hasan shahih”.An-nasai’: (no:99), ad-darimi (no:711), al-hakim (no:1/147-148) dan Ibnu Huzaimah (1/78-87).
[10] Subulu As-Salam (1/47).
[11] Taudzihu Al-Ahkam Min Buluugh Al-Maram. (1/176).
[12] Dikeluarkan oleh Abu Dawud. (139).
[13] Bulughul Haram (Hal: 19).
[14] At-Talkhis Al-Kabir (1/78).
[15] Hulashah Al-Badr Al-Munir (11/32).
[16] Zadul Maad (1/192-193).

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda