Sunnah Yang Terlupakan

Sunnah Yang Terlupakan

-

Ditulis oleh: Abu Nawwaf Akhyar Rasyidi

Sumber:

-

No comments

Segala puji bagi Alloh Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Rosululloh shollallohu alaihi wasallam, kepada keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa diatas sunnahnya.
Diantara sunnah yang banyak dilupakan oleh kaum muslimin adalah sunnah meluruskan shaf dalam shalat.
Berkata Syaikh Albani Rohimahulloh dalam kitab Silsilah Ahadits As Sohihah no: (31-32):
Banyak sekali Hadits-hadits shohih Dari Nabi shollallohu Alaihi Wasallam, yang memerintahkan untuk meluruskan shaf, sampai jarang para penuntut ilmu tidak mengetahuinya apalagi syuyukh (para kiyai), akan tetapi mungkin masih samar bagi kebanyakan dari mereka, meluruskan shaf dengan kaki dan bukan dengan pundak saja, bahkan berkali-kali kami mendengar dari sebagian imam masjid, ketika memerintahkan untuk meluruskan shaf, yang di peringatkan cuman sunnah meluruskan pundak saja tampa menyertakan sunnah meluruskan kaki, karna ini menyelisihi apa yang sudah valid dari sunnah yang shohih, maka aku akan menyebutkan hadits-hadits yang datang dari Nabi, sebagai peringatan bagi mereka yang mau beramal dengan sunnah yang shohih, dan tidak tertipu oleh adat-adat dan taklid-taklid yang sudah mewabah pada ummat.
Aku katakan: Dalam masalah ini ada dua hadits yang shohih.
Pertama: Hadits Anas
Kedua : Hadits Nu’man Bin Basyir semoga Alloh meridhoi keduanya.

  • Adapun Hadits Anas yang berbunyi:

(أَقِيمُوا صُفُوفَكُم ْ وتراصوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي).

Artinya: “luruskan shaf kalian dan saling berdekatlah, sungguh aku melihat kalian dari belakang punggungku”Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Ahmad dari jalan Humaid At Thowil: Anas bin Malik mengabarkan: setelah (muadzzin)iqomah untuk sholat lalu Rosululloh menghadapkan wajahnya kepada kami dan berkata: (dengan hadits diatas)
Dalam riwayat lain Imam Bukhori menambahkan (قبل أن يكبر) sebelum takbir, dan beliau tambah pada akhir hadits:

(وكان أحدنا يلزق منكبه بمنكب صاحبه ، وقدمه بقدمه).

“Dan orang-orang menempelkan/merapatkan pundaknya dengan pundak temannya, menempelkan kakinya dengan kaki temannya”, ini terdapat dalam Al-Mulakhkhos, dan disebutkn juga oleh Ibnu Abi Syaibah dengan Lafadz:

(قال أنس: فلقد رأيت احدنا يلصق منكبه بمنكب صاحبه وقدمه بقدمه ، فلو ذهبت تفعل هذا اليوم ، لنفر أحدكم كأنه بغل شموس).

Artinya: “Anas mengatakan: “Aku melihat orang-orang merapatkan pundaknya dengan pundak temannya, dan merapatkan kakinya dengan kaki temannya, kalau kamu lakukan ini hari ini, orang-orang akan lari seperti keledai yang liar”
Imam AlBukhori memberikan tarjamah (judul) untuk hadits ini

(باب إلزاق المنكب بالمنكب والقدم بالقدم في الصف)

(Bab merapatkan pundak dengan pundak dan kaki dengan kaki dalam shaf)

  • Adapun Hadits Nu’man

(أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ [ثَلَاثًا] وَاللهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ).

Artinya: “Luruskan shaf kalian (3x) Demi Alloh, Kalian luruskan shaf kalian ataukah Alloh akan menjadikan hati kalian berselisih”
Beberapa faidah penting dari dua hadits ini:
1. wajibnya meluruskan dan merapatkan shaf, karna amer (perintah) dalam hal ini, dan asal dari amer (perintah) itu adalah wajib, kecuali ada qorinah sebagaimana sudah ditetapkan dalam ilmu ushul. Dan qorinahnya disini menguatkan (hukum) wajib, yaitu sabda Rosululloh:
(أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ)
atau Alloh akan menjadikan hati kalian berselisih
sesungguhnya ancaman seperti ini tidak diutarakan dalam perkara yang tidak wajib.
2. lurus yang dimaksudkan (dalam hadits) adalah dengan merapatkan pundak dengan pundak dan merapatkan pinggir kaki dengan kaki, dan inilah yang dilalukan oleh para sahabat waktu mereka diperintahkan untuk meluruskan merapatkan, karenanya berkata Alhafiz (Ibnu Hajar) dalam kitab Alfath setelah meyebutkan azziyadah (tambahan)pada hadits pertama dalam hadits Anas:
(dengan penjelasan ini yaitu perbuatan yang disebutkan (cara para sahabat dalam meluruskan shaf) pada zaman Nabi Sollallohu alaihi wasallam, dengan ini sempurnalah hujjah yang menjelaskan maksud atau cara meluruskan dan merapatkan shaf ).
Tapi sangat disayangkan sunnah meluruskan shaf ini telah dilalaikan kaum muslimin bahkan mereka hilangkan, kecuali sedikit saja dari mereka, aku tidak melihat sunnah ini pada satu kelompok dari mereka kecuali pada Ahlul hadits, aku lihat mereka di makkah pada tahun 1368 H, mereka sangat gigih ber-tamassuk dengan sunnah ini, dan dengan sunnah-sunnah Nabi Shollallohu Alaihi wasallam yang lainnya, beda dengan mereka para pengikut mazhab, saya sebutkan tampa terkecuali sampai (orang-orang) Hanabilah juga demikian, sunnah ini mereka jadikan sesuatu yang sudah terlupakan, bahkan mereka mencari-cari cara untuk meninggalkan dan menolaknya, dan itu karna kebanyakan mazhab mereka telah menetapkan bahwa yang sunnah dalam berdiri (dalam sholat) adalah merenggangkan antara kaki seukuran 4jari, kalu lebih dari ini makruh, ini sebagaimana disebutkan secara perinci dalam kitab (Alfiqh ‘Ala Madzahib Al-Arba’ah 1/207) padahal ukuran yang disebutkan tidak ada asalnya dalam sunnah, ini cuman pendapat semata, kalaupun pendapat ini benar maka harus dipautkan dengan imam dan munfarid, agar tidak menentang sunnah yang sohih, sebagaimana dinyatakan dalam Qoidah-Qoidah Ushuliyah.
Ringkasnya, Aku mengajak kepada kaum muslimin khususnya para imam masjid yang semangat dalam mengikut dan mencari keutamaan dalam menghidupkan sunnah nabi Nabi Shollallohu alaihi wasallam, hendaklah mereka mengamalkan sunnah ini, perhatian dan mendakwahkan manusia kepadanya sampai mereka bersatu dan selamat dari ancaman:

(أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ)

atau Alloh akan menjadikan hati kalian berselisih
3. Pada hadits yang pertama menyebutkan dengan jelas mu’jizat Rosul yaitu: Melihatnya beliau dari belakang, akan tetapi perlu diketahui bahwa ini khusus pada waktu shalat saja, karna tidak didapatkan satupun dalam sunnah, beliau juga bisa melihat dari belakang diluar shalat, wallohu a’lam.
4.pada dua hadits ini ada dalil yang jelas, yaitu perkara yang tidak diketahui oleh sebagian besar manusia, walaupun sudah dikenal dalam ilmu jiwa, yaitu kerusakan lahiriah mempengaruhi kerusakan batin begitu juga sebaliknya, dan banyak hadits-hadits yang mengandung makna ini, semoga kita bisa mengumpulkan dan mentakhrijnya pada kesempatan lainnya insyaAlloh.
5.mulainya imam untuk takbirotul ihrom ketika ucapan muadzzin Qod qoomatis sholaah adalah Bid’ah, karna bertentangan dengan hadits yang sohih. Dalam dua hadits ini terutama hadits yang pertama, karna dua hadits ini menunjukkan wajibnya imam memperingatkan orang-orang untuk meluruskan shaf, karna mereka adalah tanggungjawab imam.

(كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ………).

Artinya: “setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggungjawab atas kepemimpinannya..”

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم والله تعالى أعلم

Tentang Penulis

Abu Nawwaf Akhyar Rasyidi

Berikan komentar anda