Syarat dalam Hadits Mutawatir – Silsilah Tanya Jawab Ilmu Hadits No. 5

syarat dalam hadits mutawatir

Makkah al-mukarramah (03/06/1437 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

Al-Fatawa Al-haditsiyah, karya Syaeikh Sa'd bin Abdullah 'ali humaid. Dikumpulkan oleh Syeikh Abu Ubaidah Mahir bin shalih 'Ali mubarak. Jilid pertama, hal : 9. Cet. Dar ulum As-sunnah, tahun, 1420 H.

No comments

PERTANYAAN : Apakah disyaratkan dalam hadits mutawatir supaya kita melihat (meneliti) rijal sanadnya atau tidak disyaratkan?

JAWABAN : Mayoritas ulama yang membahas masalah ini dengan mengatakan: Tidak perlu diteliti rijal (perawi) sanadnya, mungkin yang mereka maksud adalah dari segi ingatan (dzabit) perawi. Adapun kepercayaan (al-adaalah), maka tetap harus diteliti. Dan hal ini (penelitian) hanya ketika menghukumi atas hadits Rosulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pula atsar yang datang, baik dari sahabat maupun tabi’in.

Yang benar, sesungguhnya wajib untuk mengetahui terpercayahnya semua jalan perowi. Adapun masalah ingatan (dzabit) mungkin dapat dimaklumi. Karena apabila sebuah hadits datang kepada kita dari jalan yang banyak maka masing-masing dari jalan tersebut akan saling-saling menguatkannya. Sehingga hadits tersebut menjadi kuat dengan banyaknya jalan tersebut. Dan apabilah jalan tersebut bertambah lebih banyak maka dalam kondisi demikian tidak diragukan lagi bahwa hadits itu akan memberikan faidah ilmu.

Referensi : Al-Fatawa Al-haditsiyah, karya Syaeikh Sa’d bin Abdullah ‘ali humaid. Dikumpulkan oleh Syeikh Abu Ubaidah Mahir bin shalih ‘Ali mubarak. Jilid pertama, hal : 9. Cet. Dar ulum As-sunnah, tahun, 1420 H.

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (03/06/1437 H).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda