Syubhat (Kerancuan) dan Jawabannya Seputar Maulid Nabi

Maulid Nabi

Makkah Al-mukarramah (12/3/1435 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab yang berjudul"Rosail fi hukmi al-ihtifal bi al-maulid an-nabawy". Karya ; beberapa ulama Hal. 927 (2/927-928)

No comments

Syubhat (Kerancuan) Dan Jawabannya Seputar Maulid

Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam

Sebagian orang yang menguatkan perayaan maulid menebarkan sebagian syubhat (kerancuan) untuk menjadikan perayaan maulid sebagai amalan yang disyari’atkan atau minimal amalan yang mubah. Oleh karena itu berikut ini akan kami paparkan beberapa kerancuan dan jawabannya secara bertahap. Wa Allaahu waliyyu at-taufiq.

KERANCAUAN PERTAMA:

1.       Ucapan mereka : Sesungguhnya sabda Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya :”Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru. Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan adalah sesat dan setiap kesesatan adalah di neraka”.

Hadits ini menunjukan, bahwa tidak semua kebid’ahan itu adalah sesat.  Karena kalimat “Al-kull” tidak mencakup semuanya atau segala sesuatu. Sedangkan diantara ulama sendiri ada yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah. Diantara mereka ada juga membagi bid’ah menjadi bid’ah wajibah dan mustahabbah, demikian pula bid’ah makhruhah dan muharramah.

Jawaban : Sesungguhnya hadits Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (harus dipahami) sesuai dengan dzahirnya. Ia menunjukkan bahwa semua kebid’ahan dalam agama adalah sesat tanpa kecuali. Karena kalimat “kull” (dalam konteks ini) adalah berfungsi untuk “Al-istighraq”, yaitu mencakup semua bagian. (bukan ‘aam makhsus, atau muqoyyad, artinya umum yang dibatasi jangkauannya ). Terkhusus lagi ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan “adat tahdzir”, yaitu Rambu-rambu larangan dengan sabdanya “wa iyyaakum wa muhdatsaatil umuur” (jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru). Oleh karena itu, Apakah mungkin dengan semua ini Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menginginkan sebagian bid’ah saja, tanpa sebagian yang lain??!!……

Kemudian kami bertanya kepada orang yang berpendapat demikian (membagi bid’ah), apabila sabda Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas tidak menunjukkan bahwa semua bid’ah adalah sesat, maka bagaimanakah ungkapan yang paling mendalam, yang menunjukkan atas penolakan bid’ah secara menyeluruh??!!…..Adakah ungkapan yang lebih sempurna melebihi sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam??!!……………….

Adapun pendapat yang mengatakan, bahwa diantara ulama ada yang membagi bid’ah menjdai bid’ah hazanah dan sayyiah, atau diantara ulama ada yang membagi bid’ah sesuai dengan hukum yang lima, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, haram. Maka ini bertentangan dengan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.Apakah kita akan mengambil pendapat mereka atau sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam?!!…….

Kami yakin, seorang muslim tidak akan mungkin mau mendahulukan pendapat seseorang –siapapun orang tersebut- atas Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang maksum (dijaga dan dipelihara oleh Allah Ta’ala dari kesalahan).

KERANCAUAN KEDUA.

2.       Mereka mengatakan : bahwasannya perayaan maulid bukanlah merupakan amalan bid’ah, bahwa itu merupakan amalan kebaikan dengan dalil sabda Rosulullah  shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

“Barangsiapa yang memulai sunnah kebaikan dalam islam, maka ia akan mendapatkan kebaikannya dan kebaikan orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa yang memulai sunnah kejelekan dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang yang melakukannya sampai hari kiamat”.

Jawaban : Sesungguhnya sunnah baik adalah yang mempunyai asal dalam syariat, seperti sodaqoh yang mana itu merupakan sebab datangnya hadits ini. Telah diriwayatkan, bahwasannya suatu kaum mereka datang kepada Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedangkan mereka datang dalam keadaan fakir dan miskin. Maka Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendorong para sahabatnya untuk bersadaqah terhadap kaum tersebut. Maka datanglah seorang dengan membawa sekantong dirham yang tangannya tidak mampu untuk membawanya. Kemudian para sahabat yang lain berlomba-lomba mengikuti orang tadi. Pada saat itu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadits ini.

Adapun perayaan maulid, maka itu adalah sebuah kebid’ahan yang diadakan setelah berlalunya generasi yang utama. (Yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in).

KERANCAUAN KETIGA

3.       Mereka mengatakan : Benar, bahwasannya para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in, mereka tidak pernah mengerjakan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebabnya adalah karena dekatnya masa mereka dengan masa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,sehingga mereka tidak perlu mengadakan perayaanmaulid tersebut!!!…

Jawaban : Sesungguhnya jauhnya masa kita dengan masa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh menjadi alasan untuk membuat hal yang baru dalam agama yang bukan merupakan bagian darinya. Dan selama (tiga) generasi yang mulia ini tidak merayakan maulid, padahal mereka adalah manusia yang sangat mencintai Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari pada manusia yang sesudah mereka. Oleh karena itu, maka yang  benar adalah kita meniti langkah mereka demi untuk mendapatkan kecintaan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallamyang sesungguhnya dan karena sesungguhnya mereka (tiga generasi salaf, yaitu sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in) telah berada di atas kebenaran secara yakin.

KERANCAUAN KEEMPAT

4.       Mereka mengatakan : sungguh telah muncul bid’ah yang banyak dan ridhai oleh ulama islam serta kaum muslimin telah berjalan di atasnya sampai hari ini. Seperti umar bin khattab yang telah mengumpulkan kaum muslimin dalam shalat tarawih dengan satu imam. Demikian pula ia merubah undang-undang talaq yang ditempuh oleh Rosulullah shallahu ‘alaihi wa shallam dan Abu Bakr serta ia menarik sadaqoh bagi orang-orang mualaf. Sebagaimana sahabat ustman telah mengumpulkan mushaf (al-qur’an), yang tidak pernah dikumpulkan sebelumnya.

Jawaban : Mengenai shalat Tarawih, maka sesungguhnya yang mensyariatkan adalah Rosulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shalat dengan para sahabat kemudian meninggalkannya karena takut diwajibkan atas ummat. Setelah wafat Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan terputusnya wahyu serta hilangnya sebab yang ditinggalkan dengannya, yaitu khawatir akan diwajibkannya terhadap ummat,  maka Umar bin khatab melakukan shalat dengan berjamaah. Kemudian praktek khulafaur rasyidin adalah sunnah dengan dalil sabda Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya : ”maka wajib bagi kalian untuk mengambil sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin yang diberi petunjuk”. Maka perbuatan khulafa ar-rasyidin tidak bisa dikatakan bid’ah, oleh karena itu tidak ada seorang musliim pun yang mengingkari atas mereka dari apa yang ada dan tidak seorang pun yang menentang secara mutlaq. Sesungguhnya umat tidak akan sepakat di atas kebatilan, sementara maslahat dalam masalah ini sangatlah jelas.

Adapun mengenai perayaan maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka kebalikannya. Sebab tidak ada maslahat yang jelas darinya. Bahkan kami memandang dapat mengantarkan kepada penyimpangan-penyimpangan dan kerusakan-kerusakan. Diantara dalil bahwa perayaan maulid tidak sama dengan permasalahan-permasahan di atas adalah karena permasalahan-permasalahan tersebut tidak ada  pertentangan. Adapun perayaan maulid, walaupun dengan rentang waktu yang panjang dan lebih dari seribu tahun maka kaum muslimin –terkhusus para ulama (Ahlus sunnah atau rabbany) mereka selalu menentang maulid, baik di negri syam, mesir, Saudi arabiya, india, Pakistan dan yang lainnya. Sementara Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.    (QS. An-nisa : 59 ).

Artinya, kembalikanlah kepada Al-qur’an dan As-sunnah, apa-apa yang mencocoki keduanya maka ambilah dan apa-apa yang menyelisihi keduanya maka tinggalkanlah.

 

KERANCAUAN KELIMA

5.       Mereka mengatakan : Apakah kalian melarang berdzikir dan membaca biografi atau sejarah Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam ??!!…..

Jawaban : Kami sekali- kali tidak pernah melarang berdzikir dan membaca biografi atau sejarah Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam !!….bahkan kami menyarankannya, akan tetapi kami menolak untuk mengkhususkan hal itu pada hari tertentu  dalam waktu setahun dengan tanpa adanya dalil yang mengkhususkannya.

KERANCAUAN KEENAM.

6.       Mereka mengatakan : Sesungguhnya orang-orang yang merayakan maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah mayoritas kaum muslimin, sedangkan orang-orang yang melarang atau yang tidak sependapat dengan hal itu adalah minoritas.

Jawaban : Sesungguhnya kebenaran tidak bisa diketahui dengan banyak atau sedikitnya pelaku, akan tetapi kebenaran hanya bisa diketahui dengan dalilnya. Al-qur’an telah mengkabarkan tentang mayoritas. Allah berfirman :

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

” Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah”.    ( QS. Al-an’am: 116 ).

Demikian Al-qur’an juga mengkabarkan tentang minoritas. Allah berfirman:

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِ ۖ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ ۗ وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ ۩

” Daud berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat”.    (QS. shad : 24 ).

KERANCUAN KETUJUH.

7.       Mereka mengatakan : Ibnu al-zahari berkata, bahwa Abu lahab terlihat dalam mimpi, maka ditanyakan kepadanya, bagaimana keadaamu? Ia menjawab : di neraka, akan tetapi telah diringankan siksa bagiku setiap malam senin, karena aku merasa senang dengan kelahirannya dan aku telah membebaskan budak saya yang bernama tsuwaibah. Selama keadaan orang kafir ini (Abu lahab) dapat mengambil faidah dengan sebab ia senang dengan kelahiran Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka bagaimana dengan keadaan orang yang senang serta merayakan kelahirannya sedangkan ia adalah orang muslim yang beribadah kepada Allah??!!…

 Jawaban : Aku tidak pernah melihat dalil yang lebih lemah dari ini. Karena orang yang melihat dalam mimpi adalah majhul (tidak diketahui), sedangkan orang yang dilihat atau dikabarkan adalah orang kafir (Abu lahab). Kemudian sejak Kapan dan bagaimana sebuah mimpi bisa menjadi dalil untuk menentukan hukum syar’i??!!…

KERANCAUAN KEDELAPAN.

8.       Mereka mengatakan : Sesungguhnya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah terbiasa berpuasa hari senin, dan tatkala ditanya beliau menjawab : “hari itu adalah hari di mana aku dilahirkan”. Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dahulu berpuasa setiap hari senin, berarti ia telah merayakan hari kelahirannya, karena ia dilahirkan pada hari itu.

Jawaban : Kami tidak mengingkari anjuran puasa pada hari senin dan keutamaannya, demikian pula puasa pada hari kamis. Karena puasa pada hari senin dan kamis adalah sunnah sepanjang tahun, bukan hanya pada waktu tertentu tanpa yang lainnya. Akan tetapi mengqiyaskan apa yang disyariatkan (puasa senin dan kamis) dengan sesuatu yang tidak disyariatkan, yaitu perayaan maulid Nabi adalah merupakan qiyas yang berbeda dan termasuk qiyas yang batil.

KERANCAUAN KESEMBILAN.

9.       Mereka berkata : Sesungguhnya nikmat itu mengharuskan syukur, dengan dalil bahwa ketika Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam datang ke madinah dan melihat orang-orang yahudi berpuasa pada hari as syura’ beliau bertanya :hari apakah yang kalian berpuasa pada saat ini? Mereka menjawab : ini adalah hari di mana Allah selamatkan Nabi Musa dan kaumnya serta menenggelamkan fir’aun dan kaumnya. Maka Nabi Musa berpuasa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah oleh karena itu kami pun berpuasa. Kemudian Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”kami lebih berhaq (untuk mengikuti) ajaran  musa dari pada kalian”. Maka beliau pun puasa dan memerintahkan untuk berpuasa.  Dan sesungguhnya kelahiran Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam termasuk nikmat yang paling besar, yang mengharuskan syukur, maka perayaan kami dengan hari kelahirannya adalah merupakan bentuk terhadap nikmat ini.

Jawaban : Benar, nikmat itu mengharuskan syukur atasnya. Dan sesungguhnya nikmat yang besar atas umat ini adalah diutusnya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bukan kelahirannya. Karena Al-qur’an tidak mengisyaratkan kepada kelahirannya dan tidak perhatiannya dengannya, akan tetapi mengisyaratkan kepada diutusnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu merupakan nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala. Allah berfirman :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

 Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.  ( QS.Ali-imran : 164).

Allah juga berfirman :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

” Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.      (QS. Al-jumu’ah : 2).

Ini merupakan perkara penting bagi semau rosul. Karena ibrahnya adalah dengan pengutusan mereka, bukan dengan kelahiran mereka. Sebagamana Allah berfirman :

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

” Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”.   (QS.  Al-baqorah ; 213).

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

” Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.      (QS. An-nahl : 36).

Andaikata perayaan maulid diperbolehkan dan disyariatkan, niscaya mengingat (melakukan peringatan) diutusnya adalah lebih utama, bukan kelahirannya. Adapun mengenai puasa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallampada hari as-syura, maka beliau adalah yang  menyampaikan dan menerima syariat dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu tidak boleh kita mengqiyaskan dengannya dengan membuat sesuatu kebid’ahan. Karena yang dituntut dari kita adalah mengikuti, bukan membuat kebid’ahan.

FAIDAH DAN KESIMPULAN :

Ringkasnya adalah sesungguhnya tidak boleh kita merayakan maulid nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan beberapa alasan:

1.       Sesungguhnya maulid adalah termasuk amalan bid’ah. Sedangkan dalil –dalil telah memperingatkan kita dari berbuat kebid’ahan dalam agama. Padahal hari raya serta perayaan-perayaan adalah termasuk bagian dari perkara syariat ( yang harus dikerjakan sesuai dengan dalil-dalil).

2.       Sesungguhnya (tiga) generasi yang utama, mereka sangat mencintai Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tidak seorangpun dari mereka yang memperingati hari kelahiran beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

3.       Sesungguhnya perayaan ini telah mengantarkan kepada kerusakan dan penyimpangan (yang besar dan bermacam-macam) dalam agama. Dan berlalu penjelasannya. Sedangkan kaidah-kaidah agama menghukumi bahwa sesuatu yang mubah, jika kita anggap maulid adalah sesuatu yang mudah.  Apabila mengantarkan kepada sesuatu yang haram, maka ia menjadi haram demi untuk menutup pintu bahaya.

4.       Karena itu (maulid) merupakan cara yang berlebihan, yang dilarang oleh Allah dan Rosul-Nya.

5.       Karena itu (maulid) merupakan pengagungan yang dilarang oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

6.       Sesungguhnya syiah rafidhah mereka lah yang membuat bid’ah dalam itu. Karena mereka adalah sekte islam yang paling banyak berbuat bid’ah. Apakah pantas bagi ahlus sunnah untuk mengikuti syiah rafidhah dalam kebid’ahan mereka.

7.       Sesungguhnya perayaan maulid adalah taqlid kepada orang-orang nasrani dalam perayaan mereka dengan Nabi Isa ‘alaihis salam. Sementara dalil-dalil telah mengharuskan untuk menyelisihi mereka dan tidak menyerupai mereka.

8.       Sesungguhnya mencintai Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak harus terwujud dengan mengadakan perayaan maulid, akan tetapi akan terwujud dengan mengamalkan sunnahnya, mendahulukan sabdanya di atas semua pendapat orang lain dan tidak menolak hadits (As-sunnah) sedikitpun.

9.       Sesungguhnya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya telah cukup dengan agama Allah tanpa harus merayakan maulid, oleh karena itu hendaklah dapat mencukupi kita juga apa yang telah mencukupi Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Wa Allahu ‘alam wi shawab…

Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan segenap keluarga serta para sahabatnya.

Al-faqiir ila afwi robbih

Hamidin As-sidawy , Abu Fayha

Makkah Al-mukarramah

(12/3/1435 H)

 

Diterjemahkan dari kitab yang berjudul”Rosail fi hukmi al-ihtifal bi al-maulid an-nabawy”. Karya ; beberapa ulama Hal. 927 (2/927-928).

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda