Tentang Keutamaan Niat – Cerminan Ulama Salaf

tentang keutamaan niat

Makkah al-mukarrmah ( 4/7/1434 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

"Min Akhbar As Salaf '', karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam, dengan tambahan muqaddimah dan penutup.

No comments

Sesungguhnya segala pujian hanyalah Milik Allah azza wajalla, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya, Serta berlindung kepada-Nya dari segala kejelekan diri kami, dan dari segala kejelekan perbuatan kami. barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah azza wajalla, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah azza wajalla, Dia sendiri yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa kedudukan niat seorang muslim di sisi Allah sangatlah tinggi. oleh karena itu janganlah pernah kita berniat melainkan kebaikan dan kemuliaan walaupun sekecil apapun. Dalam hal ini manusia berbeda sesuai dengan perbedaan ilmu dan ketaqwaan mereka. Berikut ini untaian mutiara dari ulama salaf tentang keagungan niat, semoga kita bisa mengambil pelajaran untuk bisa kita amalkan.

1. Dari Abi Musa –semoga Allah meridhainya-, ia berkata: “Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya, dan sesungguhnya Allah akan membalas seorang hamba atas niatnya dengan apa yang tidak Allah balas atas perbuatannya, karena di dalam niat tidak terdapat riya’ sedangkan amalan dicampuri dengan riya”. (Al-Firdaus Bi Ma’tsuril Khithab).

2. Said bin Musayib berkata: “Barangsiapa yang ingin mengerjakan shalat atau puasa atau umrah atau haji dan semua kebaikan kemudian ia tidak megerjakannya melainkan ia akan mendapat pahala yang ia niatkan”. (Hilya Auliya’: 3/371).

3. Abdullah Mubarak berkata : “bisa jadi amalan kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niatnya, dan amalan besar menjadi kecil karena niatnya”. (Jami’ Ulum Wa Hikam, hal: 14).

4. Al-Mutharrif berkata: “sesungguhnya kebaikan hati bergantung pada kebaikan amal dan kebaikan amal bergantung pada kebaikan niat”. ( Jami’ ‘Ulum Wa Hikam, hal:12).

5. Sufyan Ats-Tsaury : “tidaklah badan akan menjadi lemah jika dibarengi dengan niat, maka dahulukanlah niat kemudian sertailah dengan amal”. (Hilyatul Auliya’: 5/61).

6. Sebagian ulama salaf dahulu apabila ia ditanya, mengapa tidak mengerjakan amal? maka ia menjawab: apabila Allah karuniakan niat kepadaku maka aku akan kerjakan”. (Ihya Ulumudin: 4/374).

7. Dari Umar Bin Dzar, ditanyakan kepada Ibrahim at-taimy berkatalah? Maka ia menjawab: ” belum datang kepadaku niat.” (Hilyatul Auliya’ : 4/211).

Semoga Allah selalu meluruskan niat kita dalam semua amal shalih, dan menjadikan kita selalu istiqomah di atas kebaikan.

Penulis
Al-faqiir ila afwi Robbih
Hamidin as-sidawy al-atsary, Abu harits
Makkah al-mukarrmah
( 4/7/1434 H )

Disarikan dari kitab “Min Akhbar As Salaf ”, karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam, dengan tambahan muqaddimah dan penutup.

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda