Ungkapan Tentang Ikhlas – Cerminan Ulama Salaf

ungkapan tentang ikhlas

-

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

-

No comments

Segala sesuatu mempunyai nyawa, jika roh adalah nyawa dari jasad, maka ikhlas merupakan nyawa dari amal. Betapapun berharganya sebuah jasad seseorang tidak akan ada harganya jika tanpa nyawa. Sebagaimana berapapun banyaknya suatu amal seseorang, jika tidak disertai dengan ikhlas, maka ibarat buih di lautan, tidak ada manfaatnya.

Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk selalu ikhlas dalam setiap amal, sekecil apapun. Baik dalam amalan lahir maupun batin, sebagaimana yang tersebut banyak dalam Al-qur’an al-karim. Begitu pula Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menganjarkan kepada Umatnya untuk selalu ikhlas dan jangan sampai kita mencampuri amal dengan hal-hal yang bisa membatalkannya, sebagaimana yang tersebut dalam hadits-hadits yang shahih.

Karena sangat pentingnya masalah ini (ikhlas), maka para ulama kita selalu membahasnya. Baik secara rinci atau global, dari zaman dahulu sampai sekarang. Bahkan ada diantara mereka dahulu yang mengarang buku khusus dengan judul “Kalimah Al-Ikhlas Wa Tahqiiqu Ma’naaha”, karya Ibnu Rajab Al-Hambaly. Demikian pula dari kalangan ulama sekarang, ada yang mengarang dengan dujul “Kaifa Takuunu Mukhlishan Lillaahi Fii ‘Amalika”, karya Syeikh Abdurrahman bin Abdullah bin Husain, demikian pula judul “Kitab Al-Ikhlas”, karya Syeikh Husain bin Audah Al-Awaisah (murid Syeikh al-Albany) dan yang lainnya.

Disini penulis tidak akan membawakan dalil-dalil tentang ikhlas, walaupun sangat penting akan tetapi sudah sangat ma’ruf dan bukan disini pembahasannya. Akan tetapi penulis hanya akan membawakan kata mutiara dan contoh sikap serta amal kaum salaf yang menunjukkan atau mencerminkan akan keikhlasan mereka. Diantaranya adalah:

– ‘Aqil Bin Ma’qil berkata: Aku telah mendengar pamanku Wahab Bin Munabbih berkata: “Orang munafik itu memilki tiga ciri, yaitu: Apabila sedang menyendiri, ia malas berbuat. Apabila ada orang lain di sisinya, ia giat beramal. Dan ia senantiasa semangat dalam segala urusan demi untuk mendapat pujian orang lain. Dan orang yang dengki memiliki tiga ciri, yaitu: selalu meng-ghibah orang yang ia dengki, jika melihatnya (orang yang ia dengki) ia mencari muka, dan merasa senang dengan musibahnya”. (hilyatul auliya’ 4/47).

– Dari Abi Hazim ia berkata: “sembunyikanlah kebaikan kamu yang lebih banyak dari pada kamu menyembunyikan kejelekan kamu”. (Mushannaf: 7/195).

– Badil Al-Aqily berkata: “Barangsiapa yang mengharap wajah Allah dengan amalnya, maka Allah akan menghadapkan wajah-Nya kepadanya dan semua wajah manusia. Dan barangsiapa yang beramal untuk selain Allah, maka Allah akan palingkan wajah-Nya darinya serta wajah semua manusia”. (lihat Hilyatul Auliya, hal: 15).

– Hamdun Al-Qosshar ditanya, “Kenapa ucapan kaum salaf lebih bermanfaat dari pada ucapan kita?”. Maka Ia menjawab: “Karena mereka berbicara demi kejayaan Islam serta hanya mencari ridha Allah. Sedangkan kita berbicara demi harga diri dan untuk mencari dunia serta ridha manusia”. (Lihat Shafwatu As-Shafwah: 2/122).

– Yusuf bin Asbat berkata: “Tiga tanda ikhlas dalam ucapan, pertama: kejujuran hati untuk mencari pahala, kedua: keinginan menghilangkan syubhat, ketiga: tidak peduli dengan pujian atau celaan manusia”. (Syuabul Iman Lil Baihaqi 5/347).

– Amir bin Abdi Qois At-Thaimy berkata: “Apabila ucapan keluar dari hati (ikhlas), maka ia akan mengenainya dan jika ucapan hanya keluar dari lisan, maka ia tidak akan sampai menembus telinga”. (Al-Bayan Wa Tabyin, hal: 1/59).

– Dari Ali Bin Fudhail Bin Iyadh, ia berkata: “Alangkah manisnya (manfaat) ucapan para sahabat”. Maka Fudhail bertanya, “wahai anakku tahukah kamu apa sebabnya?” Ia menjawab: “Tidak wahai ayahku”. Maka ia berkata: “Karena mereka hanya mengharap -dengan ucapan tersebut- ridha Allah semata”. (Syuabul Iman Lil Baihaqi no: 1708).

– Muhammad bin Abi Aisyah berkata: “Janganlah kamu menjadi orang yang mempunyai dua wajah dan dua lisan. Kamu menampakan kepada manusia mencintai Allah dan mereka memujimu sedangkan hati kamu rusak”. (Syuabul Iman Lil Baihaqi hal: 5/360).

– Nusair berkata: “Tidaklah Robi’ bin Khos’am melakukan shalat sunnah di masjid melainkan sekali (selama hidup)”. (Siyar ‘Alamu Nubala, hal: 4/261).

– Ahmad bin Hambal berkata: “Tidaklah Allah mengangkat derajat Ibnu Mubarak melainkan karena amalnya yang tersembunyi”. (Siyar ‘Alamu Nubala, hal: 4/261).

– Dari Ibrohim bin Adham ia berkata: “Larilah kalian dari manusia seperti larinya kamu dari serigala yang buas, dan janganlah kamu ketinggalan dari shalat Jumat dan berjamaah (dengan kaum muslimin), serta tidaklah dikatakan jujur dengan Allah orang yang menyenangi popularitas. (Hilyatul Auliya’: 8/20).

– Dari Ibnu Mubarak, ia berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang tinggi derajatnya seperti Malik Bin Anas, ia tidak memiliki shalat dan puasa yang banyak melainkan karena amalan yang tersembunyi”. (Hilya Auliya, hal: 21).

– Ayub As-Sakhtiyany suatu ketika melakukan sholat malam maka ia sembunyikan hal tersebut sehingga tatkala datang waktu subuh ia angkat suara, seakan-akan ia bangun pada saat itu”. (Siyar ‘Alamu Nubala, hal: 5/230).

– ‘Abdah bin Abi Lubabah: “Manusia yang paling dekat kepada riya’ adalah mereka yang paling merasa aman darinya”. (Min Akhbaris Salaf, hal: 21).

– Sufyan berkata: “Barangsiapa yang batinnya lebih baik dari pada dzahirnya, maka itu adalah keutamaan. Dan barangsiapa yang batinnya lebih jelek dari dzahirnya, maka itu adalah merupakan kejahatan”. (Hilyatul Auliya: 7/30).

– Muhammad bin Wasi’ berkata: “bahwa ada seorang yang menangis dalam shalat malam selama dua puluh tahun, sementara istri yang bersamanya tidak mengetahui hal tersebut”. (Min Akhbaris Salaf, hal: 9).

– Suatu ketika ada orang yang datang kepada Robi’ bin Khas’am, sedang di pangkuannya terdapat al-Qur’an, lalu dengan serta-merta ia menutupinya.” (Siyar ‘Alamu Nubala, hal: 4/260).

– Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia adalah kesyirikan sedangkan ikhlas adalah di saat Allah selamatkan kamu dari keduanya”. (Syuabul Iman Lil Baihaqi 5/347).

– Ar Rabi’ berkata: Aku telah mendengar Syafi’i berkata: “Aku senang jika manusia mempelajari ilmu ini (karangan-karangan beliau) dengan tanpa menisbahkan sesuatu pun kepadaku”. (Siyar A’laam An Nubala’ 10/29).

– Ibnu Mubarok mengatakan: “Sesunggguhnya Ibrohim bin Adham adalah orang yang selalu menyembunyikan kebaikan. Aku tidak pernah melihat ia mengeraskan tasbih atau amal kebaikan apapun”. (Siyar ‘Alamu Nubala, hal: 7/390).

Terakhir, semoga Allah menjadikan kita memahami hakikat ikhlas dan diberi kekuatan untuk mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam ucapan maupun perbuatan, khususnya dalam dunia dakwah, dengan segala macam fitnah yang ada, sampai kita menghadap kepada Allah. Sehingga kita mendapat ridha-Nya.

Ya Allah, sesungguhnya kami tahu, bahwa Engkau adalah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, dengan nama-namu-Mu yang Agung dan sifat-sifat-Mu yang tinggi, kebesaran-Mu yang mulia, jadikanlah kami orang-orang yang ikhlas dan hanya mengharap wajah-Mu dalam setiap amal serta Jauhkanlah kami dari riya’, sum’ah, ujub, dan hal-hal yang membatalkannya.

Penulis

Al-fakiir ila afwi Robbih

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary, Abu Harits

Makkah al-Mukarramah

(4/7/1434 H)

Disarikan dari kitab “Min Akhbar As-Salaf “, karya Abu Yahya Zakarya Bin Abdul Qadir Ghulam, dengan tambahan muqaddimah dan penutup.

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda