Wafatnya Ibunda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam – Silsilah tanya jawab sirah nabawiyah (11)

wafatnya ibunda nabi

Makkah al-mukarramah (03/04/1439 H)

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

kitab ad-dur atsmin fi siraturrosul al-amina, karya Syeikh Mu'idz bin Abdillah az-zahrany –hafidzahullah-, cet dar taibah al-khadra, hal : 15, tahun 1424 H

No comments

WAFATNYA IBUNDA NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM – 

SILSILAH TANYA JAWAB SIRAH NABAWIYA (11)

Pertanyaan: Kapan kakek Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam (Abdul Muthhalib) mengurus beliau dan kepada siapakah beliau mewasiatkan untuk mengurus Nabi setelahnya dan kapan itu terjadi ?

Jawaban: Dahulu Nabi shallallaahu’laihi wa sallam di bawah penjagaan Ibunda shallallaah’alaihi wa asallam dan pengurusan kakeknya Abdul Muththalib setelah kepulangan Nabi dari Bani sa’ad yang selalu berada dalam pemeliharanNya. ketika beliau berumur 6 tahun ibunda beliau meninggal dunia di abwa’ (antara mekah dan madinah).

Ibunda beliau pernah membawa beliau ke saudara-saudara dari bani ‘Adiy Bin Najar dalam rangka mengunjungnya. ibunda beliau pun meninggal dunia dalam perjalanan menuju kota mekah. Maka beliau shallallaahu’alaihi wa sallam bersama kakeknya yaitu Abdul Muthalib.

Oleh karena itu kakeknya merasa iba kepadanya, padahal ia belum pernah merasa iba kepada anak-anaknya sendiri, ia tidak pernah meninggalkannya dan ia selalu mendahulukannya dari pada anak-anaknya sendiri, ia mempunyai tempat tidur di bawah naungan ka’bah sedangkan kaumnya selalu duduk-duduk di samping tempat tidurnya tersebut. anak-anaknya tidak ada yang duduk di sampingnya sebagai penghormatan kepada baliau.

Adapun Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam selalu datang dan duduk di sampingnya kemudian paman-pamannya mengambilnya supaya diakhirkan, akan tetapi Abdul Muthalib apabila melihat hal seperti itu ia berkata: biarkanlah anakku ini, demi Allah sungguh ia mempunyai sesuatu perkara yang agung (kedepan) kemudian ia duduk bersama beliau di atas tempat tidurnya dan mengusap punggungya dengan tangannya dan senang dengan apa yang apa yang ia lihat. Dan setelah delapan tahun dua bulan berlalu dari usianya shallallahu’alaihi wa sallam, kakeknya tersebut meninggal dunia di mekkah, dan pengurusannya beralih kepada pamannya yaitu Abu thalib (saudara ayahnya).

ANAK-ANAK ABDUL MUTHTHALIB

PERTANYAAN : Siapakah Abdul muthalib, apakah hubungannya dengan Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan sebutkan keturunannya?

JAWABAN : Abdul muthalib, dia adalah kakek Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dialah yang mengurusi Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah kematian ibunya. Ibnu ishaq berkata :”Abdul muttalib termasuk pembesar Quraisy, selalu menjaga perjanjian, berakhlaq dengan akhlaq mulia, mencintai fakir miskin serta membantu jamaah haji. Ia mempunyai sepuluh anak laki-laki dan enak anak perempuan”.

Anak laki-lakinya, mereka adalah : Al-harits, Az-zubair, Abu thalib, Hamzah, Al-abbas, Abdullah, hijel, al-muqowim, Dzarrar, (Abu lahab) Abdul uzzah.

Adapun anak-anak perempuannya, mereka adalah : Barrah (Ummu abi salamah ibnu abdil izzah Al-makhzumy). ‘atikah (ummu Abdillah bin abi umayah), dia adalah pemilik mimpi sebelum terjadinya perang badar dan telah diperselihsikan keislamannya, shafiyah (ummu zubair bin awwam) telah masuk islam dan berhijrah, Arwah, dia adalah ummu ali jahs Abdullah bin jahs, Ahmad, Abuidilla, Zainad, Hamanah), Amimah, Ummu hakim (Al-baidza).

PERTANYAAN : Apakah hubungan Abi thalib dengan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah ia menjumpai masa kenabian (Muhammad) dan bagaimana sikapnya terhadap Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah kenabiannya?

JAWABAN : Abu talib bin Abdul muttalib, ia adalah paman Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saudara kandung bapak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dialah yang mengurusi pendidikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah kakeknya meninggal –sebagaimana yang telah berlalu- dan sangat berlemah lembut kepadanya. Ia mendahulukan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pada anak-anaknya.

Ia berperan mendidik dan memelihara Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai pada tahun yang ke sepuluh dari kenabian, memenuhi permintaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjaga dari musuh-musuhnya serta menyayanginya.

Ia mengakui kenabian Rosulullaha shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi ia enggan masuk islam karena takut ain dari kaumnya. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya saat kematian datang kepadanya :
Wahai paman, katakanlah LA ILAHA ILLALLAHU suatu kalimat yang akan aku jadikan hujjah bagimu di sisi Allah, maka iapun enggan. Dan akhir kalimat yang dia ulang-ulang adalah “Dia (diriku) di atas agama Abdul muttalib maka Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : aku akan selalu memintakan ampun bagimu selama tidak dilarang

(Riwayat Bukhari, no: 1272, Muslim, no: 35, Musnad Imam Ahmad, no: 22562). maka Allah berfirman :

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At Taubah : 113).

KELUARNYA NABI SHALLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM KE NEGRI SYAM

PERTANYAAN : Kapan Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam pergi ke syam, dan apa yang beliau dapatkan selama di perjalanan tersebut?

JAWABAN : ketika Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam berumur 12 tahun, Abu thalib keluar bersama kafilah untuk berdagang ke syam, ketika persiapan sudah matang hatinya terpaut kepada Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam, maka Abu Thalib merasa sayang kepadanya, dan berkata: Demi Allah sungguh aku akan pergi bersamanya dan dia tidak akan berpisah denganku dan aku tidak akan meninggalkannya selamanya. Maka berangkatlah Abu Thalib menuju syam untuk berdagang hingga sampailah di bashrah.

Di kota bashrah ini ada seorang pendeta yang terkenal dengan nama ”Buhaira” namanya adalah “jirjis”. Ketika para kafilah turun dia keluar dan memuliakan mereka dengan jamuan, padahal sebelumnya dia tidak pernah keluar menyambut mereka, kemudian dia mengetahui Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam melalui sifatnya, lalu berkata sambil memegang tangannya: ”ini adalah sayyidul ‘alamin, ini adalah utusan Allah sebagai rahmat sekalian alam. Maka Abu Thalib berkata: ”Apa yang engkau ketahui tentang itu? dia berkata: kamu sekalian ketika turun dari tempat yang tinggi maka tidak ada batu-batuan maupun pohon melainkan telah sujud tersungkur, dan tidaklah sujud kecuali kepada seorang Nabi , dan sungguh aku mengetahuinya dari tanda kenabian yang ada di bagian bawah pundaknya dalam bentuk seperti buah apel, dan sungguh kami mendapati hal tersebut di dalam kitab-kitab kami. Dan dia meminta Abu Thalib untuk mengembalikannya ke mekah dan tidak melanjutkan ke kota syam, karena khawatir atasnya dari gangguan kaum yahudi, maka pamannya mengutusnya bersama beberapa orang uutuk kembali ke mekah.

Demikian semoga bermanfaat dan tidak lupa kami mengucapkan Shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, segenap keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengar benar sampai hari zaman,,,,

(Kami terjemah dari kitab ad-dur atsmin fi siraturrosul al-amina, karya Syeikh Mu’idz bin Abdillah az-zahrany –hafidzahullah-, cet dar taibah al-khadra, hal : 15, tahun 1424 H).

Alih bahasa, al-faqir illah
Hamidin as-sidawy, Abu harits
Makkah al-mukarramah (03/04/1439 H)

Tags

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda