Wasiat Dan Renungan Bagi Seorang Dai

Wasiat dan Renungan Bagi Seorang Dai

Makkah Al-Mukarramah ( 21/6/1434 H )

Ditulis oleh: Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Sumber:

risalah yang berjudul “ Ikhwaanunaa Ad Du'aat Hadzihi Washaayaa Min Makkah”.

No comments

1. Ikhlaskanlah amal hanya untuk Allah dan berdakwahlah demi untuk mengharap wajah-Nya semata, dengan menjauhkan diri dari riya’, sum’ah dan pujian manusia. Karena amal yang sedikit atau sederhana jika disertai dengan ikhlas, maka akan diberkahi olah Allah. Allah Ta’aalaa berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus [1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(QS. Al bayyinah :5)

2. Semangatlah dalam dakwah yang benar, dakwah As-salafiyah atau Ahlu sunnah, berdasar ilmu dan sesuai pemahaman salafus shalih, dengan mengikuti petunjuk Nabi Shallallaahu’alaihi wasallam serta pratek para sahabat -semoga Alah meridhai mereka, baik didalam beribadah, berdakwah, berekonomi, berpolitik dan lain – lainya. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”.(QS. Al Hasyr: 7)

3. Bersabarlah dan mengharaplah kebaikan dari Allah ‘azza Wajalla atas segala ujian dan cobaan yang menimpa di jalan dakwah kepada -Nya, dengan mencontoh sebaik-sebaik manusia, yaitu Nabi Shallallaahu’Alaihi Wasallam dan para sahabat yang mulia dalam menyampaikan Risalah Islamiyah. Allah subhaanahu Wa ta’aalaa berfirman:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ

Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu”. (QS. Luqman : 17)

4. Berbekallah dengan ilmu syar’i yang diambil dari Al-qur’an dan as-sunnah, dengan pemahaman salaful shalih. mendahulukan yang paling penting dari perkara tauhid dari pada yang lainnya serta tidak terburu-buru dengan hasil dalam berdakwah. Allah subhaanahu Wa ta’aalaa berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

Artinya: Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata”. (QS. Yusuf :108)

5. Hiasilah diri dengan akhlaq yang Islamy, seperti lemah lembut, sabar, rendah hati, kasih-sayang dengan kaum muslimin secara umum dan sesama da’i secara khusus. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Artinya: Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. (QS. Ali imran; 159)

6. Bangunlah kerjasama sesama para da’I, demi untuk mewujudkan persatuan yang haqiqi, yang dibangun di atas cinta, iman dan amal shalih karena Allah semata dan menjauhi segala macam bentuk perpecahan dan permusuhan. Allah subhaanhu wa ta’aalaa berfirman:

وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya:” dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al Anfal:46)

7. Hidupkanlah ruh amar ma’ruf dan nahyu an mungkar serta selalu berhubungan dengan para ulama dalam rangka untuk menambah ilmu, nasehat, arahan di jalan dakwah. Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Artinya:” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar” . (QS. Ali Imran: 110)

8. Gunakanlah cara dan sarana yang bervariasi dan yang disyari’atkan dalam berdakwah, serta memakai teknologi yang cocok sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan masing-masing tanpa berlebih-lebihan Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” . ( QS. An Nahl: 125).

9. Kerahkanlah kemampuan untuk mendakwahi orang – orang kafir kepada Islam dan berjuang untuk menyebarkan agama ini agar bisa masuk ke tiap rumah, sesuai dengan cara dan kemampuan masing-masing. Demi untuk mewujudkan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Demikian artikel singkat ini. Semoga bermanfaat dan bisa kita amalkan, khususnya dalam dunia ilmu dan dakwah. Artikel ini kami ringkas dari risalah yang berjudul “ Ikhwaanunaa Ad Du’aat Hadzihi Washaayaa Min Makkah”.

Alih bahasa: Al-faqiir ilaa ‘afwi Robbih
Hamidin As-sidawy Al-atsary, Abu harits
Makkah Al-Mukarramah
( 21/6/1434 H )

Tentang Penulis

Hamidin As-Sidawy Al-Atsary

Berikan komentar anda